Dari Pekarangan Rumah ke Kemandirian Pangan: Resep Camat Ngronggot Raup Cuan dan Konsumsi Telur “Ndok Jowo”

banner 468x60

WH.NGANJUK – “Ketahanan pangan mandiri dimulai dari pekarangan sendiri.” Prinsip itulah yang dipegang teguh oleh Makruf, seorang peternak mini sekaligus Camat Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk. Di tengah kesibukannya sebagai pelayan masyarakat, warga asal Kecamatan Prambon ini sukses menyulap lahan sempit di belakang rumahnya menjadi ladang cuan yang ramah kantong dan mampu menopang kebutuhan dapur.

​Awalnya, pembuatan kandang ayam ini hanya disalurkan berdasarkan hobi belaka. Namun seiring berjalannya waktu, populasi ayam yang dirawatnya sejak kecil hingga dewasa kian bertambah pesat. Lewat proses seleksi dan perawatan yang tekun, usahanya kini membuahkan hasil yang memuaskan.

​”Ayam-ayam ini tidak langsung besar, melainkan kita rawat dari kecil hingga dewasa lalu dipilah sesuai kebutuhan. Saat ini hasilnya sudah sangat terasa,” ungkap Makrup saat ditemui di kediamannya, Sabtu (3/10/2026).

​Efisiensi Kandang Susun dan Kualitas Telur Fertil
​Untuk memaksimalkan lahan terbatas, Makruf merancang kandang susun berbahan sederhana dari bambu dan kayu. Kandang berukuran panjang sekitar satu meter dan lebar setengah meter tersebut didesain secara praktis: wadah pakan berada di luar, sedangkan bagian alas dibuat miring agar telur secara otomatis menggelinding keluar melalui celah bawah.

​Uniknya, telur yang dihasilkan dari peternakan rumahan ini memiliki nilai jual dan kualitas di atas rata-rata. Makruf menerapkan rasio perkawinan 1 ekor pejantan berbanding 4 ekor betina di setiap sekat kandang.

​”Ini merupakan telur kawin (fertil), bukan sekadar telur hasil pakan biasa. Istilah populernya ndok jowo, harganya tentu lebih mahal di pasaran. Sebagian kita tetaskan untuk regenerasi, sebagian dijual, dan sebagian lagi dikonsumsi sendiri untuk keluarga,” jelasnya.

​Pengelolaan Limbah ‘Zero Waste’ Bebas Bau
​Masalah bau yang kerap menjadi kendala utama peternakan rumahan berhasil diatasi Makruf dengan pendekatan ekologis. Untuk alas kandang, ia memanfaatkan campuran arang sekam dan kotoran kambing demi menjaga kelembapan serta suhu ideal.

​Sementara untuk mengurai kotoran ayam, ia memanfaatkan maggot atau larva pengurai. Metode ini menciptakan rantai integrasi pangan bertipe zero waste (tanpa limbah):

​Pengurai Bau: Maggot mengurai kotoran ayam sehingga lingkungan bebas dari bau tak sedap.
​Pakan Protein Tinggi: Maggot yang telah berkembang dipanen dan diberikan kembali ke ayam sebagai pakan tambahan kaya protein.
​Pupuk Organik: Sisa residu penguraian maggot (kasgot) dimanfaatkan sebagai pupuk alami untuk menyuburkan tanaman di pekarangan rumah.
​Guna menjaga performa dan nutrisi harian ternak, pakan utama yang digunakan tetap memadukan pakan pabrikan yang takaran gizinya sudah disesuaikan dengan tingkatan usia ayam.

​Inisiatif sederhana dari pekarangan rumah ini menjadi bukti nyata bahwa konsep ketahanan pangan keluarga dapat diwujudkan oleh siapa saja, bahkan dari lahan terbatas di area pemukiman.

editor : Ida

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *