wartahukum.net
WH.Bogor -Upaya mengatasi persoalan sampah sekaligus mencari sumber energi alternatif terus digenjot pemerintah. Salah satu langkah yang mulai dipersiapkan adalah pengolahan sampah menjadi energi melalui teknologi pirolisis di kawasan Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan bersama Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak meninjau langsung lokasi perencanaan pembangunan pengolahan PSE BBMT Pirolisis di Galuga, Kamis (17/9/2026).
Peninjauan tersebut turut dihadiri Bupati Bogor, Wali Kota Bogor, serta sejumlah pejabat terkait. Untuk memastikan kegiatan berjalan aman dan tertib, pengamanan melibatkan jajaran Korem 061/Suryakancana bersama Kodim Kabupaten Bogor.
Di hadapan para pejabat dan undangan, Zulkifli Hasan menekankan bahwa persoalan sampah tidak cukup hanya menangani sampah yang muncul setiap hari. Tumpukan sampah lama yang selama bertahun-tahun berada di tempat pembuangan juga harus mendapat perhatian serius.
Menurut Zulkifli, pengelolaan sampah baru dan sampah lama harus dilakukan secara bersamaan. Sampah yang terus diproduksi setiap hari perlu segera diolah, sementara timbunan lama secara bertahap harus dikurangi agar tidak terus membebani lingkungan.
“Yang baru dikerjakan, yang lama juga dikerjakan. Pola sampah menjadi energi listrik harus saling melengkapi,” ujar Zulkifli Hasan.
Ia menyebut volume sampah baru yang diolah mencapai sekitar 10 ribu ton per hari, sedangkan timbunan sampah lama telah mencapai puluhan juta ton. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya tantangan yang harus ditangani secara terintegrasi.
Zulkifli juga mengapresiasi dukungan TNI dalam membantu percepatan program pengolahan sampah. Menurutnya, dukungan di lapangan diperlukan agar berbagai tahapan program dapat berjalan lebih efektif.
“Dengan dukungan TNI, kerja menjadi lebih cepat. Tanpa TNI tentu akan lebih sulit,” katanya.
Sementara itu, Jenderal TNI Maruli Simanjuntak berharap pembangunan fasilitas pengolahan sampah di Galuga tidak berhenti pada tahap awal, tetapi dapat berkembang menjadi fasilitas berskala besar dengan kapasitas pengolahan yang semakin meningkat.
Ia menjelaskan, fasilitas tersebut direncanakan berdiri di atas lahan sekitar 5 hektare. Kapasitasnya pun ditargetkan terus berkembang hingga sekitar 50 ribu kiloliter sesuai dengan rencana pengembangan.
“Semoga proses ini terus berkembang menjadi pabrik yang kapasitasnya semakin meningkat,” ungkap Maruli.
Pengembangan teknologi pirolisis di Galuga diharapkan menjadi salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap pola pengelolaan sampah konvensional. Di sisi lain, pemanfaatan sampah sebagai bahan baku energi juga diarahkan untuk memberikan nilai tambah dari persoalan lingkungan yang selama ini menjadi tantangan.
Jika berjalan sesuai rencana, pengolahan sampah menjadi energi tersebut tidak hanya diharapkan mampu mengurangi beban tempat pembuangan akhir, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemerintah mendorong pemanfaatan sumber energi alternatif.
Dengan demikian, penanganan sampah dan penguatan ketahanan energi diharapkan dapat berjalan beriringan, dimulai dari pengelolaan sampah baru hingga pengurangan timbunan lama yang telah menumpuk selama bertahun-tahun.
Reporter:Rachman/Tim.
editor : Ida













