WH.Buru – Sebuah opini yang ditulis oleh seorang pengamat politik menyoroti fenomena serangan terhadap pemerintahan yang terjadi hari ini. Menurutnya, tidak semua kritik yang dilontarkan merupakan upaya untuk memperbaiki, tetapi sebagian besar merupakan ekspresi kekecewaan politik yang belum selesai.
“Kekecewaan karena kalah dalam kontestasi, lalu menjelma menjadi kebencian yang dipelihara,” tulis pengamat tersebut.
Pengamat itu juga menyatakan bahwa mereka yang paling lantang menyerang bukanlah mereka yang menawarkan solusi, melainkan pihak-pihak yang sejak awal menolak menerima hasil demokrasi.
“Apa pun kebijakan yang diambil, sebaik apa pun langkah yang dilakukan Bupati, tetap dianggap salah. Bukan karena kebijakannya, tetapi karena sentimen pribadi yang tak pernah selesai,” tambahnya.
Pengamat itu juga mengimbau publik untuk lebih cerdas membaca motif di balik setiap serangan, karena tidak semua yang berteriak “demi rakyat” benar-benar berdiri di pihak rakyat.
“Demokrasi menyediakan ruang untuk kritik yang sehat dan terbuka. Datanglah secara jujur, sampaikan kritik dengan kepala dingin dan argumen yang bisa diuji,” pungkasnya.
editor ; Ida













