Oknum Wartawan, Abraham Hukubun Ibarat Seperti Ikan Kecil Ajar Berenang Di Laut.

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

WH Masohi : Tuduhan yang di muat sendiri di media online MAPIKOR terkait Kepala Kantor Kementrian Agama, yang di tuding tak paham aturan PP 45 Tahun 1990 adalah sepihak dan subyektif.

Abraham lupa dan gagal paham, bahwa pendapatnya sesaat dan multi tafsir karena perlu uji materi pasal dan ayat di tingkat PTUN, sebagai bentuk pembuktian sampai amar putusan final PTUN, bahwa apakah memang benar Kepala Kantor Kementrian Agama, terbukti tak paham aturan dimaksud.

Tudingan di atas memperlihatkan betapa kerdilnya otak Abraham Hukubun, yang gagal paham karena secara subyektif sudah menyerang privasi atas nama jabatan dan istansi Kementrian Agama dengan postingan foto Kepala Kantor, sehingga patut di selidiki layak tidak postingan ini berdasarkan UU IT nomor 11 Tahun 2008 karena dapat berujung pidana.

Dari paparan fakta di atas maka 3 (tiga) kesimpulan kami uraikan yaitu, Abraham Hukubun perlu membuktikan seluruh klaim tersirat dan tudinganya pada kepala kabtor dan institusi kementrian agama dalam konteks obyektifitas dan kebenaranya sebagaimana klaim – klaimnya pikiran sesat.

Postingan Abraham,memperhatikan beberapa cermat cara berpikir dan hasil olah pikiran, dan gaya dan tata bahasa Indonesia yang kacau seperti ikan kecil baru ajar berenang di laut.

Abraham, harus membuktikan bahwa, ia telah memiliki Uji Kopetensi Wartawan ( UKW) , dan surat sah lainya dari Dewan Pers Nasional, karena patut diduga Abraham, seorang koresponden namun telah mencatut dirinya sebagai Jurnalis andal, di Kabupaten Maluku Tengah, yang sangat kekanak – kanakan, apalagi liar alur Bahasa Indonesianya tidak tepat sasaran.

Akurasi paparan Abraham, dan tudingnya bahwa, Kepala Kantor Kementrian Agama, tak paham Hukum sebenarnya telah memperlihatkan ada maksud terselubung dan untuk atas nama kepentingan pribadi, karena seolah bertindak sebagai KUASA HUKUM / LAWYER.

Ia begitu sampai lupa diri, bahwa ia bukan Lawyer yang menerima surat kuasa mengurusi masalah perkawinan salah satu ASN, yang terikat secara kedinasan dengan aturan dan kode etik instansi Kementrian Agama.

Karena lupa diri, Abraham bertindak sebagai KUASA HUKUM, dalam mengadvokasi masalah perkawinan salah satu ASN di istansi Kementrian Agama, dan sangat emosional akibat sejumlah persyaratan tehknis administratif yang tak terpenuhi.

Maka postingan dan tudingan begitu subyektif, dan emosional termuat di media cetak online Tipikor, terlihat aneh dan menyesatkan karena substansi tipikir dan substansi perkawinan tak ada kaitannya.

Abraham, lupa kode etik jurnalistik bahwa, seharusnya mempromosikan dirinya dan mengedepankan peran MEDIATOR, sehingga patut di selidiki pihak penyidik, disebabkan karena melindungi salah satu ASN Kementrian Agama, yang dibelanya mati – matian, padahal ia lupa bahwa ASN tersebut, memiliki rekam jejak / catatan kelam di masalalu sampai saat ini”(hendrik)

Tinggalkan Balasan