Kisah Inspiratif, Pasutri Calon Penghuni Surga

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

WH Bengkulu : Dalam menjalani hidup, semua manusia ingin menggapai kesuksesan dan menggapai rida Allah swt. Namun, apabila sudah meraih kesuksesan dunia, tak sedikit orang lupa dengan urusan akhirat. Hal ini akan menjadi menakutkan apabila kesuksesan dunia tidak diiringi dengan langkah untuk menggapai kesuksesan akhirat.

Karena, kesuksesan hidup tidak hanya diukur oleh capaian duniawi semata, seperti berderetnya gelar akademik, menterengnya karier, atau melimpahnya penghasilan. Kesuksesan sebenarnya ialah jika seluruh capaian itu memberi manfaat bagi orang lain sehingga mengalirkan pahala jariah, dan kelak saat menutup usia dalam keadaan husnul khatimah. Hal ini penting dipahami agar umur yang Allah berikan kepada manusia tidak sia-sia, tetapi justru memberikan banyak kebermanfaatan bagi diri sendiri dan sesama.

Oleh karena itu, manusia harus menjadikan Allah sebagai tujuan dengan senantiasa mengharap ridanya dan menjadikan surga sebagai cita-cita. Demikian juga hendaknya memandang kesuksesan. Untuk memperoleh kesuksesan dunia dan akhirat, tentu kita harus senantiasa mendekatkan diri pada Allah swt.

Seperti kisah kali ini, pasangan suami-istri (Pasutri) di Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu dapat menjadi contoh untuk seluruh umat manusia yang ingin meraih kesuksesan di akhirat kelak. Suami-istri tersebut mengajar mengaji anak-anak di sana tanpa meminta imbalan, tidak memungut biaya atau bisa dibilang ikhlas dan hanya mengharapkan pahala jariah serta keridaan dari Allah SWT saja.

Fakta ini terkuak saat ada salah satu warga tiba-tiba mengirim pesan Whatsapp (WA) kepada Wakil Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi. “Pak, mohon bantuannya, di Pasar Baru ada guru ngaji, muridnya banyak. Tapi tidak memungut biaya, bantulah Pak,” jelas Intan Novitasari kepada Dedy melalui pesan WA.

Mendengar hal tersebut, membuat Dedy hatinya tersentuh seketika dan dirinya ingin sekali bertemu dengan guru ngaji tersebut. Dedy langsung menghubungi Lurah Pasar Baru dan mengatakan ingin bertemu dengan guru ngaji yang telah diceritakan Intan. “Pak Lurah, tolong antarkan saya ke guru ngaji itu,” sampai Dedy.

Setelah itu, tibalah Dedy di sebuah rumah nan sederhana untuk bertemu dengan guru ngaji atas nama Ibu Nurhasanah bersama suaminya, Pandu Gunawan.

“Bu, kami (Walikota dan Wawali) dapat kabar. Ibu mengajar mengaji, tapi tidak mau menerima uang dari murid. Benarkah?,” tanya Dedy kepada Nurhasanah dengan lirih.

Nurhasanah pun senyum, lalu berkata, “Ya, benar pak, saya ikhlas. Saya mewakafkan hidup untuk mengajar anak-anak mengaji. Saya nggak mau memberatkan. Mereka mau mengaji saja saya sudah senang,” jawabnya dengan penuh keyakinan.

Dedy merasa tersentuh dan hendak menawarkanya honor melalui program Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu.
“Kalau dibantu honor dari pemerintah, ibu mau?,” tutur Dedy.

Seketika Nurhasanah menolaknya dengan sopan. “Terimakasih Pak, tidak usah. Terimakasih perhatian Bapak,” elaknya.

Dedy kehabisan kata-kata melihat jawaban Nurhasanah dengan yakinnya ingin mewakafkan dirinya dengan ikhlas untuk mengajar anak-anak mengaji. Diam-diam, Dedy mencari informasi soal Ibu Nuhasanah dan suaminya Pandu Gunawan. Sebab, ini langka di zaman sekarang, tak banyak guru ngaji yang benar-benar ikhlas tanpa memungut biaya dan imbalan. Karena, menurutnya Nurhasanah keridaan Allah SWT lebih utama dan pemahaman akan ilmu agama ke anak-anak lebih penting untuk modalnya menjalani hidup di era teknologi yang banyak menjerumuskan ke hal-hal yang ditentang ajaran agama.

Menurut informasi, pasangan suami istri ini sempat di puncak kejayaan. Sang suami punya perusahaan PT Andika Cipta Utama Perusahaan skala A, umumnya mengerjakan proyek besar APBN, terakhir membangun dermaga.

Namun krisis moneter 1997, perusahannya jatuh. Ibu Nurhasanah dulunya seorang PNS, guru STKS Bandung. Namun mengundurkan diri karena hendak fokus mengurus anak.

Dua anaknya sudah sukses di Jakarta. Namun Pasutri ini ingin tetap tinggal di Bengkulu menghabiskan hari tuanya. Hari-harinya mengajar anak-anak mengaji. Memang sebuah hal mulia yang ditunjukkan Nurhasanah, bisa dikatakan ia adalah sosok malaikat berwujud manusia, yang ingin mengabdi kepada Allah SWT dan mengapai ridanya.

Untuk diketahui, orangtua muridnya ada yang membayar ngaji dengan makanan. Namun, makanan itu dikembalikan lagi untuk anak-anak yang mengaji. Ibu Nurhasanah juga sering membagikan al-quran gratis. (Lz/Mc)

Tinggalkan Balasan