Warga Karangbaler Gelar Ritual Barikan Agar Datangkan Hujan

WH Brebes-Musim kemarau yang berkepanjangan  membuat warga mengalami kekurangan air sebagai sumber kehidupan.

Salah satunya warga masyarakat Desa Karangbale Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes melakukan ikhtiar Illahiyah dengan cara menggelar tradisi Barikan, agar diberikan hujan oleh Allah SWT. Sehingga keberkahan akan turun dari langit berupa air hujan.

Selain dikonsumsi  juga untuk mengairi sawah maupun perkebunan. “Ritual Barikan sudah berlangsung lama di desa kami sebagai ritual yang berisi doa-doa kepada Allah SWT agar diturunkan hujan, bila musim kemarau tiba,” ujar Kepala Desa Karangbale Kecamatan Larangan Sumeru SH disela kegiatan Festival Barikan, di Gunung Nyapa, desa setempat, Sabtu (7/9).

Barikan, kata Sumeru, berasal dari kata Barokah, Berkah dan kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Berikan. Dengan ritual Barikan, berharap Allah SWT memberikan hujan yang penuh keberkahan.

Karena menarikanya ritual tersebut, lanjutnya, dikemas dalam bentuk Festival Budaya karena mengandung nilai agama, budaya dan wisata. Termasuk didalamnya ada sedekah hasil bumi, pertunjukan kesenian daerah dan ekonomi kerakyatan juga menggeliat. “Ini kearifan lokal, yang harus kita lestarikan,” ujarnya. 

Semoga saja, sambung Sumeru, hujan cepat turun, masyarakatnya sejahtera, didatangkan juga keselamatan dan kemakmuran serta terhindar dari musibah yang diakibatkan oleh alam.

Sumeru menceritakan, Festival Barikan diawali dengan doa dan makan tumpeng bersama di aula kantor Desa Karangbale, Selanjutnya arak arakan pengantar Lebe Desa (Modin) yang menaiki kuda, untuk dimandikan dalam ritual Barikan.  Tersusun rapi juga barisan pembawa jajan pasar, buah-buahan, kembang setaman, dan gunungan hasil bumi menuju Gunung Nyapah yang berjarak sejauh 1 kilometer sebagai tempat ritual.

Usai acara inti, tamu undangan disuguhi penampilan seni budaya lokal antara lain tari jaipong dan pencak silat.

Wakil Bupati Brebes Narjo SH MH yang hadir dalam acara tersebut menuturkan, tradisi Barikan harus diambil sisi positifnya. Karena nilai positifnya lebih banyak daripada mudlaratnya. Antara lain bisa menjadikan pertumbuhan ekonomi kreatif, peningkatan iman dan takwa kepada Allah SWT dan menarik wisatawan serta menjaga atau nguri uri budaha asli Brebes.

“Kita ambil sisi positifnya saja, karena dalam acara semacam ini permohonan tetap ditujukan kepada Sang Pencipta Alam Semesta yaitu Allah SWT, meskipun ada sekelompok orang yang tidak setuju dengan ritual seperti ini,”ujar Narjo.

Narjo juga mengingatkan, agar kita senantiasa melestarikan dan menjaga alam. Karena ada simbiosis mutualisme bila kita bersahabat dengan alam. Alam telah banyak memberikan manfaat kepada umat manusia untuk itu harus menjaga alam kita.

Bencana alam terjadi, akibat kerusakan di bumi yang dilakukan oleh ulah manusia.

“Jaga alam, jika ingin alam menjaga kita,” ucapnya.

Hadir dalam acara tersebut Wakil Bupati Brebes Narjo SH MH, perwakilan Forkompinda, perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten Brebes, Kepala Desa Karangbale, tokoh agama dan tokoh masyarakat serta tamu undangan lainya.(Hryt/YA / Wdn).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *