Kerjasama Banyuasin-Malaysia Ciptakan Sarjana Hafidz Qur’an

WH Banyuasin, Sum-Sel : Pemerintah Kabupaten Banyuasin Sumatrera Selatan (Sum-Sel) akan mencetak para sarjana-sarjana yang hafidz alquran dan mereka para calon sarjana hafidz Qur’an itu akan diberi beasiswa, Terungkapnya perihal itu saat Bupati Banyuasin Safari Jumat di Kota Terpadu Mandiri (6/9).

Pemerintah Banyuasin telah menanda tanggani kerjasama atau MOU dengan pemerintah Malaysia dalam Pendidikan al-quran dan pendidikan umum dan pemberian beasiswa, akan tetapi
ada syaratnya yang bersangkutan harus tamat sekolah menegah atas dan hapal al-quran minimal 5 juz.

Nantinya siswa yang kita kirim ke Malaysia setelah mengenyam pendidikan selama 3,5 tahun yang bersangkutan men jadi sarjana dan Hafidz Quran, ” kata Askolani”.

Askolani juga mengatakan, Kami memiliki salah satu Program unggulan yaitu Banyuasin Religius yang berisi tentang maghrib mengaji, Shalat Dhuha Berjamaah, Pembuatan Rumah Tahfidz, dan masih banyak lagi, ” ungkapnya”.

Askolani juga meresmikan Rumah Tahfidz Al-Ittihaad sekaligus menyerahkan bantuan keperluan air bersih sebanyak 2 tanki 10rb liter, bantuan pembangunan Masjid 10jt, Santunan Anak yatim Piatu Kaum Dhuafa Sebanyak 50 orang dari Baznas Banyuasin, 173 keping KIA (Kartu Identitas Anak) yang diserahkan Bupati Askolani langsung kepada Camat Tanjung Laga, Drs. Yusrizal.

Disamping itu kata Askolani bahwa masyarakat Tanjung Laga kalau mau membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Kartu Keluarga (KK) tidak perlu lagi ke pangkalan balai namun cukup kekantor Kecamatan saja, semua perangkat sudah tersedia termasuk sinyal IT, susah minta beli kata Askolani.

Sementara itu Pada sholat jumat itu khutbah mengambil tema sejaraha Bangsa Indonesia Dan Peran ulama sebelum dan sesudah merdeka.

Dipilihnya Pancasila oleh para kiai dan para alim ulama karna pancasila merupakan alat Pemersatu Bangsa dan Pedoman hidup, tapi bukan merupakan pedoman beragama, kata. Bhineka Tunggal ika itukan artinya berbeda beda tapi satu Jua. Perbedaan itu jangan dianggap suatu musibah namun harus kita pandang sebagai karunia bagi kita, “Jelas khatib”.

Kalau semua kita kaya dimana akan kita berikan zakat kita, jika kita semua pintar siapa yang akan belajar dan jika semua sudah beragama islam lalu siapa lagi yang kita harus kita ajak, memeluk agama Islam, ” jelasnya”.

(Mingga Ardiyansyah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *