Malam Terakhir Syachrul Anto Selamatkan Korban Lion Air

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

WH Jakarta : Indonesia-Suasana posko relawan penyelam untuk pencarian korban Lion Air JT-610 di Jakarta International Container Terminal (JICT) 2, Tanjung Priok, Rabu (31/1) malam, terasa begitu hangat.

Sapaan dan pelukan penuh kerinduan datang silih berganti, menyambut siapa saja yang baru tiba, tak terkecuali Syachrul Anto yang baru saja mendarat di Jakarta.

“Kalau kita kumpul-kumpul tuh pasti enggak enak karena kita reuninya pas ada musibah,” kata Syachrul yang langsung diamini oleh penyelam lainnya.

Terakhir kali para relawan penyelam yang tergabung dalam Indonesia Diver Rescue Team bertemu adalah saat kecelakaan pesawat Air Asia QZ8501 di Selat Karimata, tahun 2014 silam.

“Kita ini terakhir kali ketemu 2014 lalu. Syachrul ini penyelam yang paling jago. Dia bisa semuanya. Dia yang ngumpulinkantong jenazah terbanyak,” kata Bayu, relawan penyelam yang mengenalkan Syachrul kepada saya.

Pujian dan sanjungan Bayu hanya dibalas senyum malu oleh Syachrul. Pria berusia 48 tahun itu seperti tidak ingin ‘keunggulannya’ diketahui banyak orang.

“Memang dapat berapa kantong, Mas?” kata saya bertanya penasaran ketika Bayu meninggalkan kami berdua untuk mengurus persiapan menyelam.  “Dua puluh empat kantong, tapi itu juga bareng sama yang lain,” ujarnya.

Kala itu Syachrul juga menjadi relawan penyelam, membantu Badan SAR Nasional (Basarnas) mengevakuasi korban jatuhnya pesawat Air Asia. Selama 14 hari ia berada di laut dan terus menyelam.

Tak ada rasa canggung atau takut dalam diri Syachrul ketika harus mengevakuasi potongan-potongan tubuh korban karena baginya itu seperti kewajiban.

“Kalau kita Muslim, untuk perlakuan terhadap jenazah itu kan harus memandikan, mengusung, dan itu malah jadi semacam kewajiban, mestinya kita berlomba ke arah sana,” kata pria yang kala itu mengenakan peci bermotif.

Keluarga korban yang menanti dengan penuh harap di rumah juga menjadi kekuatan tersendiri buat Syachrul untuk mengangkat jenazah-jenazah itu dari dasar lautan.  “Seperti sudah naluri untuk mengurus mereka dengan baik,” ujarnya.

Saat pesawat Lion Air Jt-610 jatuh di Perairan Karawang, pria yang sehari-hari menjadi transportir di pelabuhan di Makassar itu, merasa harus melakukan hal yang sama untuk para korban.

Ia memutuskan untuk pergi ke Jakarta, menjadi relawan untuk membantu pencarian bersama Basarnas.

Syachrul sebenarnya sedang berada di Sleman, Jogjakarta, untuk urusan keluarga. Namun, ia tak sampai hati membiarkan korban di dasar laut sementara keluarga mereka menunggu di rumah.

“Waktu kejadian ini saya ada di Sleman. Peralatan selam ada di Makassar. Begitu ada kabar saya langsung berangkat sini. Alat dikirim ke sini,” ungkap Syachrul. “Bikin enggak konsen apa-apa kalau ada peristiwa kayak gini,” tambahnya.

Seperti kebanyakan relawan penyelam lainnya, Syachrul mulai menyelam untuk rekreasi. Untuk menikmati keindahan alam yang dimiliki Indonesia. Ia melakukannya sejak remaja.

Namun, seiring berjalannya waktu, Syachrul, yang juga pemerhati terumbu karang itu, merasa ‘sudah puas’ menyenangkan diri sendiri.

“Seiring berjalannya usia, rasa kemanusiaan muncul. Ingin ilmu yang saya punya bisa berimbas ke yang lebih luas saja. Tidak untuk diri sendiri,” ujar Syachrul yang kerap murah senyum itu.

Malam itu kami tak bisa mengobrol berlama-lama karena Syachrul harus mengecek alat selamnya yang belum juga tiba. Sementara kapal SAR KN Sadewa tak lama lagi akan diberangkatkan.

Ia terus menelpon untuk mengecek keberadaan rekannya yang membawa alat itu dari Makassar, dari rumah Syachrul.  “Sebentar lagi sampai. Sudah dekat,” kata Syachrul.

Sambil menunggu alat selam Syachrul, tim penyelam lainnya melakukan rapat kecil dan mempersiapkan semua alat. Satu per satu perlengkapan dibawa ke kapal Basarnas oleh masing-masing penyelam.

“Saya sampaikan sekali lagi, ukur kemampuan kalian. Kalau sekiranya sudah tidak kuat, lebih baik naik. Kita sedang rescue, jangan sampai kita yang di-rescue,” kata Bayu selaku pemimpin regu ketika mengingatkan rekannya.

Ada juga persiapan logistik yang juga sudah disediakan oleh relawan lainnya dari Indonesia Off Road Federation (IOF) untuk bekal para penyelam. Gotong royong seperti ini bukanlah pemandangan yang luar biasa lagi di posko bencana karena sejatinya mereka saling membantu.

Sambil mempersiapkan seluruh peralatan sebelum masuk kapal, Syachrul dan beberapa relawan penyelam berfoto di dekat kapal. Hal ini biasa mereka lakukan untuk mengabadikan momen-momen berharga mereka. “Mau foto? Tunggu-tunggu pakai kacamata dulu,” kata Syachrul.

Kacamata berwarna cokelat yang ia keluarkan untuk berfoto ternyata sudah ia siapkan. Tingkah lucu Syachrul itu sontak digoda oleh beberapa temannya. Syachrul pun berpose dengan senyum sumringahnya sambil merangkul kedua rekan di sebelahnya.

Tak lama setelahnya, ia diajak berfoto lagi. “Foto lagi? Ayo.” “Tunggu, saya ikut. Enggak boleh kalau bertiga,” kata salah seorang penyelam yang melengkapi grup foto menjadi empat orang.

Kala itu, jarum jam sudah menunjukkan pukul 00.00 Wib malam. Usai foto-foto, mereka kembali mempersiapkan diri. Masuk ke Kapal dan menunggu diberangkatkan.

Syachrul Anto (posisi tengah berkacamata hitam), salah satu penyelam relawan pesawat Lion Air JT-610 yang meninggal dunia dalam bertugas.

“Cuacanya lagi enggak enak nih. Kemarin padahal lautnya tenang-tenang aja, sekarang parah ombaknya,” kata salah seorang anggota Basarnas di KN Basudewa yang berada di perairan Tanjung Karang, Jumat (2/11).

Hari itu saya menumpang kapal SAR KN. Basudewa untuk melihat proses evakuasi korban dan badan pesawat Lion Air JT-610, bersama relawan penyelam, penyelam dari brimob, dan Basarnas Special Group.

Kapal kami bertolak dari JICT 2, Tanjung Priuk sekitar pukul 08.50 pagi menuju perairan Tanjung Karawang. Puluhan penyelam diterjunkan hari itu untuk proses evakuasi. Proses penyelaman berlangsung selama berjam-jam dan secara bergantian.

Sambil terombang-ambing di atas kapal saya menunggu hasil temuan para penyelam yang memang diantarkan ke kapal kami. Dua kantong jenazah pertama hari itu tiba di KN Basudewa sekitar pukul 12.30 Wib.

Menjelang sore, angin semakin kencang, begitu pula dengan ombak di sekitar kapal. Beberapa anggota SAR berulang kali menanyakan keadaan saya. “Mbak enggak mabok?” ujarnya. “Sudah biasa, Pak. Hari ini cuacanya jelek ya, Pak?” kata saya menimpali.”Iya. Padahal kemarin permukaan lautnya kayak kaca.”

Proses pencarian yang awalnya tenang dan lancar, seketika berubah seolah mengikuti irama angin dan ombak.

Kepanikan terjadi di tengah laut. Saya yang ketinggalan melihat kejadian itu berusaha mencari informasi dari rekan media lainnya. Mereka bilang ada yang mengalami insiden di laut, tapi tidak tahu siapa dan apa penyebabnya. “Itu tolong cepat. BSG(Basarnas Special Group) tolong bantu, tolong ada yang ke sana,” teriak salah satu anggota SAR dari kapal yang kami tumpangi sambil menunjuk ke arah kepanikan itu terjadi.

Saya tidak bisa mengira seberapa jauhnya lokasi kejadian. Lensa kamera 24-70 yang saya pakai jelas tak mampu menjangkaunya dengan jelas. Namun, kepanikan itu masih bisa terlihat. Beberapa kapal rib terlihat mendekat. Ada juga kapal pasukan katak.

Suasana di KN Basudewa berubah tegang. Instruksi ini dan itu diteriakkan komandan regu. Wartawan diminta tidak merekam kejadian. “Close camera, close camera.”

karena kapal yang mengangkut korban sepertinya menuju kapal kami dan singgah sebentar. Kami tidak diberi tahu apa yang terjadi dan diminta menunggu kabar berikutnya saja.

Saya pun mulai panik, sambil berusaha mencari tahu siapa yang mengalami insiden buruk itu dan apa penyebabnya, bagaimana kondisinya. Namun, tak ada seorang pun yang bisa menjawab. Saya hanya menunggu.

Kejadian itu lantas mengubah raut wajah beberapa anggota tim SAR. Wajah mereka sedikit tegang dan lesu. Entah karena evakuasi hari itu benar-benar menguras tenaga atau insiden yang baru saja terjadi. Saya tak tahu pasti.

Sore yang penuh ketegangan itu akhirnya berubah menjadi malam. Ombak dan angin pun semakin kencang. Satu per satu kapal rib yang melakukan operasi kembali ke kapal-kapal besar. Rupanya kapten kapal memutuskan kembali ke dermaga di Tanjung Priuk. Padahal sebelumnya sempat beredar kabar kapal akan bermalam.

Sesampainya di Tanjung Priuk saya bertemu Bayu dan menanyakan insiden yang baru saja terjadi di tengah laut. “Itu Syachrul,” kata Bayu usai menghela napas panjang setelah saya bertanya. “Dia kecelakaan, saya belum tahu kondisinya sekarang. Kita tunggu kabarnya nanti.”

Saya tak menyangka Syachrul, yang berangkat ke Jakarta untuk membantu korban dengan naluri menolong yang sudah mendarah daging di jiwanya, harus mengalami musibah ini saat melakukan aktivitas yang digemarinya.

Saya dan Bayu lantas kembali ke posko relawan IOF dan tempat kali pertama saya bertemu Syachrul dua malam sebelumnya.

Tidak ada lagi kehangatan setibanya di posko para penyelam itu. Situasinya masih tegang, dingin.

Sampai akhirnya, salah satu relawan bernama Ronny, yang juga saya kenal, memanggil saya. Saat itu dia sedang mengobrol bersama Bayu.

“Kamu sudah tahu kabarnya? Terima kasih buat tulisan kamu sebelumnya tentang Syachrul. Itu sangat bagus dan akan saya sampaikan ke keluarganya karena sekarang dia sudah enggak ada.”

Sama seperti dua malam sebelumnya, beberapa orang dengan wajah baru yang saya lihat satu per satu datang. Namun, pelukan mereka tidak sehangat saat Syachrul masih ada. Kini pelukan mereka penuh duka dan air mata. Selamat jalan, Mas Syachrul.