Kembali Mahasiswa Lakukan Aksi

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

WH Bengkulu : Didasarkan simpati Mahasiswa akan nasib masyarakat Teluk sepang, Aliansi Tolak PLTU Batu Bara bertepatan dengan Peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober lalu melakukan aksi, Senin (29/10).

“Penggunaan listrik dari batu bara melalui proyek pembangkit listrik PLTU secara nyata memperburuk kualitas hidup serta menjadi salah satu penyebab kematian bagi mahluk hidup. Penelitian menyebut polusi PLTU Batu bara menjadi penyebab kematian dini 6500 orang per tahun di Indonesia,” ucap Jon Kenedi selaku Koordinator Lapangan.

Jon Kenedi juga menjelaskan bahwasanya polusi dan pembakaran batu bara telah menyumbang tidak kurang dari 40 persen emisi gas dan menjadi penyebab utama terjadinya perubahan iklim. Namun, pemerintah saat ini dinilai semakin masif mendirikan PLTU batu bara diseluruh indonesia khususnya Pulau Sumatera. Dimana Sumatera sebagai pusat pembangkit listrik berbahan bakar batu bara dengan 7.004 MW listrik dari PLTU batu bara akan ditambah lewat program ambisius penambahan 35.000 MW daya listrik. Dari rencana Pemerintah tersebut, salah satu proyek berdiri di Bengkulu dengan kapasitas 2 x 100 MW yakni di daerah Teluk Sepang.

“Aksi tolak PLTU batubara Teluk Sepang ini adalah rangka panjang untuk melakukan penolakan PLTU batubara Teluk Sepang dengan tuntutan mencabut izin lingkungan PT tenaga listrik Bengkulu oleh Plt, Gubernur. Dasar dari pencabutan izin tersebut lantaran ada beberapa kejanggalan dalam proses pemberian PLTU termasuk persetujuan warga yang sejak awal menolak proyek ini. Namun Pemerintah terus saja Abai pada rakyat yang sudah paham dan mengambil keputusan proyek sejak awal kami juga mengkaji bahwa ada tindakan cacat hukum dalam proses pembangunan PLTU salah satunya melanggar dokumen tata ruang provinsi dan kota,” jelasnya.

Sementara warga Teluk Sepang, Hamidi, mengatakan sejak awal tegas menolak proyek PLTU batubara di Kelurahan Teluk Sepang aspirasi itu telah mereka sampaikan dengan aksi unjuk rasa saat peletakan batu pertama proyek pada tahun 1602 namun suara masyarakat diabaikan dan saat ini penolakan terhadap proyek ini terus diperjuangkan oleh Warga lokal. “Kami tidak akan pernah berhenti berjuang karena masa depan anak cucu kami di Teluk Sepang dipertaruhkan,” ungkapnya.(Rk)