SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1439 HIJRIYAH

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

WH Jakarta : 22 Agustus 2018. Qurban dalam Pemaknaan Syariat dan Hakekat. Momentum Idul Qurban sampai saat ini masih menuntut kita untuk benar-benar berkorban. Artinya, berkorban bukan lagi sekadar memenuhi panggilan syari’at, tetapi karena kondisi nyata ummat yang masih dihadapkan pada situasi yang memprihatinkan, maka perlu direnungkan kembali, bahkan harus dicari makna dan nilai-nilai qurban yang haqiqi.

Dalam perspektif syari’at (Fiqih), qurban memiliki makna ritual, yakni menyembelih hewan ternak yang telah memenuhi kriteria tertentu dan pada waktu tertentu, yaitu pada hari nahar (Tanggal 10 Dzulhijah) dan hari tasyrik (Tanggal 11-13 Dzulhijah). Menurut ulama ahli fiqh, ibadah qurban harus dengan hewan qurban, seperti kambing, sapi atau unta, dan tidak boleh diganti dengan lainnya, seperti uang atau beras. Meski demikian, mereka sepakat bahwa hukum berqurban hanyalah sunnat alias tidak wajib.

Dari pemahaman syari’ati (fiqhiyah) tersebut terkesan bahwa ibadah qurban hanya merupakan ekspresi sikap determinan ubudiyah (penentuan ibadah) yang dianjurkan bagi setiap muslim yang memiliki kemampuan materi. Qurban terkesan hanya rutininitas ibadah tahunan. Bahkan terkesan pula sekedar acara pesta pora daging yang dibungkus ritualistik dan rutinitas ubudiyah belaka.

Pemaknaan dan pemahaman yang cenderung literalis-dogmatis ini akan membuat teks qurban menjadi kedaluwarsa dan kenyataannya kurang memberi motivasi kuat bagi setiap muslim untuk memenuhi panggilan berqurban. Padahal secara hermeneutis (Hermeneutika jenis filsafat yang mempelajari tentang interpretasi makna), ketetapan Tuhan tentang qurban (Qs. al Kautsar, 1-2) memiliki arti transformatif saat dibaca dengan referensi setting personal, sosio-kultural dan berbagai konteks hidup dan kehidupan ummat.

Syari’at qurban diadopsi dari Nabi Ibrahim. Di masa itu masyarakat bercorak pastoralis (Bentuk cara hidup yang bertumpu pada pengelolaan binatang-binatang piaraan), karena itu investasi dan komoditas yang paling berharga adalah pemeliharaan binatang ternak, sehingga pemberian makanan berupa daging merupakan pengorbanan bernilai tinggi. Demikian pula pada era Nabi Muhammad Saw. Maka tentu saja, yang berlaku adalah subyektivitas yang disesuaikan dengan kebutuhan zamannya, sehingga qurban berbentuk hewan ternak merupakan manifestasi solidaritas tertinggi. Tetapi dalam konteks sosio-kultur masyarakat Indonesia sekarang ini, hewan ternak bukan lagi sesuatu yang sangat berharga, sehingga pemberian daging qurban menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja.

Pada beberapa kesempatan, Sepuh, Guru/Mursyid kita Abang Bulganon senantiasa memberikan cara pandang berbeda atas makna “Qurban”. Menurut Abang, kondisi seperti ini menuntut adanya penterjemahan ulang (reinterpretasi) makna qurban yang lebih kondusif dan kontekstual dengan perkembangan zaman. Sebab, hanya dengan cara ini refleksi komitmen sosial yang hendak dibangun melalui qurban akan dapat memenuhi makna luhur ibadah qurban, yakni terdistribusikannya nilai-nilai kemanusiaan secara universal.

Abang mencontohkan, beberapa kali Yaskum melakukan Qurban ternak lalu mendistribuskan secara langsung kepada warga sekitar Kembangan yang telah terdata. Sebagian besar penerima daging qurban dalam kondisi untuk membeli minyak tanah dan gas pun kesulitan. Sehingga daging tersebut tidak bisa dimasak bahkan untuk dijual pun agak sulit. Pada konteks inilah, Abang menilai perlu reinterpretasi “Qurban” dalam bentuk daging menjadi uang atau sesuatu yang lebih bermanfaat.(Korlip Nasional )

Selamat Idul Adha 1439 H