PDDA : Kalau Tidak Bisa Baca Alquran, Gagal Jadi Caleg

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

WH Banda Aceh : Wakil Ketua Pemuda Dewan Da’wah Aceh (PDDA), Riri Isthafa Najmi mengungkapkan keprihatinan terhadap kegagalan puluhan Bacaleg dalam tes membaca Alquran di hadapan tim bentukan Komite Indipenden Pemilihan Aceh (KIP Aceh). Bukan hanya di tingkat Provinsi, tapi di sejumlah Kabupaten/Kota (Bacaleg DPRK) yang juga gagal tes baca Alquran. Seperti dilansir Wartahukum.com Jumat (27/7/2018).

Aceh yang mayoritas penduduknya muslim serta menerapkan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari, wajib mampu membaca Alquran merupakan persyaratan yang sangat penting.

“Saya pikir kalau Masyarakat Aceh tidak bisa mengaji, Anda tak boleh jadi anggota DPRK, DPRA, DPRI, bahkan jadi Bupati dan Gubernur,” tegas Pemuda Aceh Selatan tersebut. Konsekuensi dari kegagalan dalam uji kemampuan membaca Alquran adalah si Bacaleg tidak dapat menjadi calon anggota legsilatif karena tidak memenuhi persyaratan.

Sedangkan Bacaleg yang sudah dinyatakan lulus tes mengaji juga belum berarti sudah bisa menjadi Caleg. Mereka masih harus menunggu hasil seleksi tahapan-tahapan berikutnya oleh KIP. Antara lain seleksi administrasi.

“Ada dua keprihatinan kita terkait Bacaleg yang tidak bisa mengaji. Pertama, sebagai masyarakat Aceh yang islami dan daerah Syariat Islam, kita mempersoalkan kenapa mereka tidak bisa mengaji. Kemudian, kita mempertanyakan kepada Parpol yang meloloskan orang-orang tak punya kemampuan baca Alquran untuk masuk daftar Bacalegnya,” kata Riri yang bekerja sebagai Wirausaha.

Riri melanjutkan, menurutnya kalau sudah diakui sah menjadi hak warga Aceh, jangan persoalkan lagi mengenai syarat mampu membaca Al-Qur’an. Apalagi bagi Caleg DPRA dan DPRK, baik asal partai nasional atau partai lokal. Karena mampu membaca Alquran itu bertaut erat dengan adat dan Syariat Islam serta Kebudayaan Aceh sebagai induknya.

Salah satu ungkapan Adat Aceh yang menyebutkan bahwa agama ngon adat lagee dzat ngon sifeut (artinya agama dengan adat seperti zat dengan sifat). Dalam hal ini, mampu membaca Alquran sudah mentradisi di Aceh, yakni setiap anak dari kecil sudah “diadatkan” membaca Alquran.

Disamping petuah lama sudah punah digilas globalisasi yang mendorong Anak-anak Aceh rajin belajar ngaji, Riri mengatakan indikasi Parpol yang bekerja gegabah dalam proses seleksi internal, yaitu tidak selektif dalam memilih orang-orang yang masuk daftar Bacaleg.

Sebaliknya, Masyarakat Aceh harus memberi apresiasi kepada Parpol-parpol yang sudah lebih dulu mengadakan tes baca Alquran bagi orang-orang yang ingin masuk daftar Bacaleg. “Apresiasi itu kita berikan karena Parpol yang sudah menunjukkan salah satu tanggungjawab moralnya dalam menyeleksi Bacaleg.

Yang lebih penting katanya, kepada tim penilai kemampuan Bacaleg membaca Alquran harus bersikap terbuka dan tentu saja harus sangat jujur dan kredibel. Sebab, dengan tidak terbukanya panitia tentang siapa-siapa saja Caleg yang gagal itu, memungkinkan munculnya “permainan” alias adanya caleg yang masuk lewat “pintu balakang”. “Jika hal ini terjadi, maka demokrasi tercederai dan kerusakan moral bagi calon wakil rakyat pun dimulai dari situ,” tutupnya.