TAK PUNYA UANG UNTUK BEROBAT,KHORIMATUN DIBIARKAN TERBARING SELAMA TIGA BULAN

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

WH : ReporeterWartaHukum.Net-642/VIII/221-Khorimatun (19) tahun, perempuan.Alamat Desa Racawuluh Rt/003/006, dari pasangan suami hartoto (21) tahun, Kecamatan Bulakamba,Kabupaten Brebes, perut Kkhorimatun di biarkan selama tiga bulan semakin membesar.Pasalnya Hartoto Suami tidak punya uang untuk membiayai pengobatan dan perawatan istrinya Khorimatun,’’ imbuhnya.

“Sehari-hari, Khorimatun hanya dibiarkan terlentang di beranda rumahnya. Sementara suami dan kedua orang tuanya bertani di sawah untuk menyokong kehidupan keluarga.
Kepada Awak media yang di dampingi Aktivis Pegiat Anti Korupsi Saudara Ahmad Sugiarto (40) tahun,yang langsung datang di rumahnya pasien, Hartoto dan kakaknya menceritakan riwayat penyakit yang diderita istrinya, awalnya melahirkan anak pertamanya pada bulan Oktober 2020 di puskesmas Bulakamba, ndikasi lemah Jantung,’’Keteranganya.

“Aktivis peduli Pegiat Anti Korupsi Saudara Ahmad Sugiarto (40) tahun, mengatakan, Khorimatun di bawa ke Rumah Sakit DERRAH ASSIFAH,Banjarharjo Brebes, pasien Khorimatun di rawat selama (3) hari tidak ada perubahan malah perut semakin membesar, Pasien akhirnya di bawa pulang dari rumah sakit . pasien masuk rumah sakit tanggal 25 maret sampai tanggal 28 maret 2021, dua minggu yang lalu, menurut keterangan dari dokter Rumah Sakit, Pasien Khorimatun, ndikasinya menderita Jantung Coronis dan gagal ginjal,disarankan Dokter, pasien harus sering kontrol, dan bila pasien tidak ada reaksi atau perubahan, sebaiknya harus di rujuk dan di rawat di RSUD Brebes,’’Keterangan Dokter.

Saat dibawa pulang dari rumah sakit, Khorimatun hanya pasrah terhadap nasib, jika Tuhan masih ingin menyembuhkan penyakit yang kami derita, harapanya keluarga dan suami pasien,Pemerintah Desa dan Pemerintah kabupaten Brebes bisa membantu dan bisa membawanya ke rumah sakit yang ada di kabupaten Brebes, Kata Saudara Ahmad Sugiarto, Pasien harus segera kami bawa dan kami rujuk ke rumah sakit yang ada di kabupaten Brebes, Menurut suami Hartoto Pasien Khorimatun,sudah saya bawa ke tempat-tempat alternatip dan sudah saya bawa ke tempat orang pintar, siapa tau tanpa pertolongan dokter, bisa sembuh.Dengan perawatan ala kadarnya.

“Hartoto Suami mengaku, makan istri saya hanya yang di berikan sehari-hari juga ala kadarnya.Beras putih dibuat bubur. Sebagai petani dan buruh serabutan, Hartoto tidak mampu untuk berobat dan tidak mampu membayar biaya rumah sakit bila istri saya di rawat di rumah sakit sama sekali tidak mampu dan tidak punya uang,’’jelas Hartoto.

‘’Jangankan membeli bubur di toko maupun di warung, buat makan sehari-hari saja keluarga saya tak menentu.Kalau ada kerjaan, baru dapat uang,’’keluhnya.

Seiring perjalananya waktu,Khorimatun dirawat begitu saja oleh kedua orangtuanya dan sanak saudara, sedangkan Khorimatun hanya terbaring di tempat tidur perutnya semakin membesar , dan tubunya hanya tinggal tulang terbungkus kulit belaka. Belum pernah ada aparat desa yang datang untuk membantu mengurus persyaratan administrasi agar bisa diobati melalui jamkesmas.

Hartoto yang juga lulusan sekolah dasar (SD) tidak tahu bagaimana mengurus pengobatan melalui jamkesmas. Sampai saat ini, menu makan Khorimatun hanya nasi putih saja, kalau sudah tidak ada beras putih, terkadang di campur dengan alakadarnya. Hartoto sendiri mengaku sudah pasrah dengan kondisi istrinya dan kondisi anaknya yang masih kecil saat ini, Hartoto sangat mengaharap pemerintah desa maupun pemerintah kabupaten bisa membawa pengobatan istri saya bisa normal kembali dan bisa sembuh,’’Pungkasnya/red.

Penulis-Reporterwartahukum.Net (Ags)

 

Tinggalkan Balasan