Rapat Pelestarian Adat Budaya”PASIRAH” Kabupaten Banyuasin.

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Senin 5 April 2021.

WH Banyuasin : Rapat Pelestarian Adat PASIRAH sekabupaten Banyuasin Sumatera Selatan tentang sejarah MARGA dibumi Sedulang setudung yang akan membetuk 16 Eks Marga Mejadi Pasirah Adat oleh pembina adat provinsi Sumatera Selatan Bpk Alba Santoso Subari SH.

Dalam penjelasannya, Pelaku Utama Pelestarian Adat Budaya adalah”PASIRAH ADAT”setiap masyarakat termasuk masyarakat adat tentunya mempunyai adat istiadat yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemajuan peradaban yang diperbaharui oleh waktu dan tempat. Hukum adat mengatakan adat istiadat itu bersifat dinamis dan plastis pada pasal 32 UUD RI 1945 ayat 1.Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia ditengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai kebudayaan (perubahan keempat). Tidak lanjut dari pada pasal ini dikabarkan lagi sepuluh prinsip penanganan kebudayaan sebagai mana diatur UU tentang kebudayaan.

Kita diSumsel telah ada Peraturan Daerah no. 5. Tahun 2014 tentang pelestarian adat budaya daerah. Didalam Perda dimaksud menghendaki,pejabaran lebih kurang sepuluh aturan pelaksanaan nya mulai dari Provinsi sampai ke desa ( peraturan desa) : lihat UU tentang tata urutan perundang-undangan yang berlaku. Salah satu sebagai pelaku utama dari Pelestarian adat istiadat adalah apa yang di idekan Gubernur Sumsel saat pelantikan pengurus pembina Adat Sumsel periode 2019 -. 2024 di Griya Agung pada tanggal 27 Desember 2019 bertepatan hari Jumat akhir tahun dan sekarang baru berusia setahun lebih kurang’.terangnya.

Ide gubernur untuk membentuk lembaga yang namanya Pasirah Adat (philosofis) sepertinya tidak ada hambatan guna merealisasikan nya,karena secara yuridis telah mempunyai dasar hukum yaitu pasal 4 peraturan daerah Nomor 12 tahun 1988 dengan mengatakan sebagai kesatuan masyarakat adat (butir 3 SK Gub 142/1983) tetap diakui disebut sebagai lembaga adat (istilah SK dimaksud) dengan Jabaran Pasal 4 Perda 12/88 dengan sebutan Rapat Adat yang dipimpin oleh tokoh adat,alim ulama dan cendikiawan , maksimal 9 orang minimal 5 orang yang dilakukan oleh Kepala daerah kabupaten,menurut saya selaku mantan administrasi dan pelaku pengurus lembaga selama ini, meyakini bahwa maksud untuk kembali ke sistem Marga adalah dibentuk nya Lembaga Pasirah Adat guna pelestarian adat budaya daerah.,’tegasnya.

Dalam rangka acara rapat pembina Adat berlangsung dibuka oleh asisten 1 kabupaten,dipimpin ketua pembina Adat TK 1 Bpk Albar Santoso Subari SH. dan ketua pembina Adat kabupaten Banyuasin Drs. H. Nurmuamad serta anggota adat sekabupaten Banyuasin. Rapat Pelestarian Adat Budaya”PASIRAH” Kabupaten Banyuasin.

Inti dari rapat yang dipimpin oleh ketua pembina Adat provinsi juga pembina Adat kabupaten Banyuasin menjelaskan, dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat adat didampingi oleh seorang kepala desa/kepala adat, jadi segala aktivitas masyarakat hukum desa dipusatkan kepada kepala desa yang menjadi bapak masyarakat desa dan yang dianggap mengetahui segala peraturan adat dan hukum adat masyarakat,
1. Urusan tanah
2. Penyelenggaraan tata tertib sosial dan tata tertib hukum supaya kehidupan dalam masyarakat hukum desa berjalan sebagaimana mestinya supaya mencegah adanya pelanggaran hukum(preventif).
3. Usaha yang tergolong dalam pelanggaran hukum untuk mengembalikan(memulihkan) tata tertib hukum serta keseimbangan menurut ukuran yang bersumber pada pandangan religio magis(represif).

inilah sebenarnya yang menjadi tugas berat bagi Pembina Adat umumnya melalui tahapan baik dari unsur eksekutif,legialatif dan yudikatif guna menyamakan persepsi yang tak pernah ada kata bulat, ini tentunya perlu kerja keras ditiga komponen diatas,hal ini memang diharmonisasikan karena perkembangan global yang tak bisa dihindari.tutupnya.

WARTA HUKUM BANYUASIN Yusan/Hasmidi.

Tinggalkan Balasan