Setiap Hari, 7 Pasutri Cerai di Kota Malang

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

WH Malang Raya : Angka perceraian warga Kota Malang masih tinggi.semua itu terlihat dari jumlah perkara yang ditangani Pengadilan Agama (PA) Kelas I Kota Malang dari bulan Januari hingga September lalu. Bila dirata-rata, setiap hari rumah tangga pasutri (pasangan suami istri) yang pisah antara 6–7 pasangan.

Dari data PA Kelas 1 Kota Malang, diketahui antara Januari–September 2019 telah memutus 1.822 kasus cerai. Jumlah tersebut lebih banyak dari tahun 2018, sebanyak 1.611. Sekretaris PA Kota Malang Muhammad Nidzom Anshori mengatakan, faktor perselisihan terus-menerus yang mendominasi alasan hancurnya rumah tangga.

”Perselisihan ini banyak faktornya. Misalnya tidak betah diolok-olok oleh mertua karena belum punya rumah sendiri, macam-macam-lah pokoknya,” jelas Nidzom. Selain perselisihan terus-menerus, ada juga diakibatkan karena meninggalkan satu pihak dan juga faktor ekonomi.

Menurut Nidzom, jika ditinjau dari data dua tahun terakhir, penyebab angka perceraian relatif tidak berubah. ”Sama, tiga itu tadi (perselisihan, ditinggalkan pasangan, dan faktor ekonomi). Selain itu, kebanyakan perempuan yang minta cerai,” tuturnya.

Dia menyebut dari jumlah kasus cerai yang ditangani, hampir 70 persen cerai gugat. ”Bercermin pada data total tahun 2018, ada 2.338 perkara cerai, di dalamnya terdapat 1.665 kasus cerai gugat, sementara cerai talak ada 673 kasus,” tambahnya.

Dari faktor usia, kasus cerai di PA Kota Malang didominasi oleh kelompok usia dewasa muda. ”Rentang usia 25–30 tahun, sekitar 80 persen, dapat dilihat dari penyebab mana yang paling utama,” kata dia. Tren cerai gugat tersebut diklaimnya juga terjadi di seluruh Indonesia dan akan terus bertambah. ”Ini rasio nasional. Berhubung data tahun ini belum selesai, jadi saya kira akan naik lagi sekitar 5 persen,” tutupnya.

Sementara itu, sejak 2 Januari–September, terdapat 171 perkara perdata yang masuk di Pengadilan Negeri (PN) Malang. Dari jumlah tersebut, yang tertinggi adalah kasus perceraian yang mencapai 72 perkara yang diajukan oleh pasutri nonmuslim.

Humas PN Malang Djuwanto mengatakan, dari puluhan kasus cerai yang ditangani, kebanyakan pemicunya karena ketidakcocokan pasangan. Entah hal tersebut disebabkan oleh perselingkuhan, pertengkaran yang tidak dapat dipersatukan, maupun impitan ekonomi.

Dia menambahkan, gugatan cerai dapat dikabulkan berdasarkan ketentuan PP No 9 Tahun 1975 tentang Perceraian. Di Pasal 21 disebutkan, gugatan dapat diterima apabila tergugat menyatakan atau menunjukkan sikap tidak mau lagi kembali ke rumah kediaman bersama.

”Selain itu, ada pula yurisprudensi yang mengatur bahwa ketidakcocokan yang tidak bisa diatasi lagi sehingga apabila pasangan yang memenuhi ketentuan dalam yurisprudensi tersebut gugat cerai dapat dikabulkan,” tambahnya.

Dalam putusan MA (Mahkamah Agung) No 238 PK/Pdt/2004 disebutkan bahwa ketidakcocokan yang tidak bisa diatasi lagi (onheelbare tweespalt) dapat diterima sebagai alasan untuk bercerai.

”Ketidakcocokan pasangan suami istri yang sering cekcok dan berselisih terus dan tidak ada lagi jalan keluar sehingga perkawinan tidak lagi memberikan kemanfaatan,” tambahnya.

Namun, Djuwanto bercerita bahwa tidak semua gugat cerai berakhir dengan perceraian, walaupun hal itu mungkin terjadi, tapi sangat jarang sekali. ”Memang sangat jarang, tapi ada yang rujuk sebelum gugat cerai diputus, tapi bukan saya yang menangani,” jelasnya.

Sementara itu, tentang tingginya alasan ”perselisihan terus-menerus” sebagai pemicu utama perceraian, psikolog Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang Fuji Astutik menilai hal itu bisa disebabkan banyak hal. Namun yang umum, adanya perbedaan kebiasaan antar kedua pihak dan pola komunikasi menjadi penentu utama.

”Ada satu kasus sang suami tidak dapat menyampaikan keinginannya atau sebaliknya, tidak menggunakan kata-kata yang tepat, atau bisa jadi karena saling memendam. Intinya, sebisa mungkin menghindari miskomunikasi antar kedua pihak,” terangnya.

Selain komunikasi, dia menilai ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan agar pernikahan tidak kandas. ”Kematangan emosi, kesiapan psikologis terkait tantangan ke depan, adaptasi keluarga dan toleransi,” sebutnya.

Terkait jumlah cerai gugat yang lebih banyak, Fuji mengatakan, sifat perempuan yang lebih ekspresif dibanding pria tidak dapat dijadikan penyebab utama. ”Menurut saya, memang perempuan lebih ekspresif dibanding pria, tapi itu tidak bisa dijadikan tolok ukur karena lagi-lagi tingkat kematangan mental dan sifat orang itu berbeda, bahkan orang yang ada di dalam laporan kasus tersebut,” jelas Fuji.

Kie’

Next Post

Ops Zebra Krakatau 2019, Polres Lampung Utara Tindak 2687 Pelanggar Lalulintas

Rab Des 4 , 2019
Spread the love         WH Lampung Utara : Dalam rangka cipta kondisi pasca pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih pemilu tahun 2019 serta untuk meningkatkan kesadaran dan kepatuhan masyarakat dalam berlalulintas Polres Lampung Utara menggelar Ops Zebra Krakatau 2019 yang berlangsung selama 14 hari dari tanggal 23 Oktober 2019 s/d 05 November […]