Rukyah Gratis Sebagai Kegiatan Sosial Rutinan di Ponpes Lamongan

WH Lamongan : Ponpes (Pondok pesantren), merupakan salah satu wadah pendidikan yang sangat penting dimana manusia bukan perlu cerdas secara intelektual saja, tetapi juga secara kepribadian, sosial, dan spiritual untuk membentuk akhlak yang terpuji.

Pesantren juga merupakan barometer penyeimbang sosial ditengah tantangan yang semakin berat dan ketat, ketika banyaknya manusia terlalu menghamba kepada ilmu pengetahuan teknologi (IPTEK) minus terhadap iman dan takwa kepada Tuhan YME, di tengah serbuan sekulerisme, materialisme, hedonisme, dan individualisme, dan samkin jauhnya dari nilai-nilai norma agama, pesantren diharapkan menjadi benteng pertahanan untuk membangun dan menjaga akidah dan akhlak umat karena tidak sedikit pesantren sukses mencetak generas bangsa berakhlak karimah yang mampu turut serta berguna demi kemajuan bangsa dan negara.

Seperti halnya apa yg di lakukan oleh Pondok Pesantren Kebon dalem Almaghfurlah Kiai Haji Hambali Tete yang berada di kecamatan Glagah tepatnya di Desa Jatirenggo, TKM dan Madrasah hayatul wathon yang berada di dalamnya juga mampu mencetak alumni yang sukses dalam bidangnya masing masing.

“Alumni madrasah sini yg di takdir jadi Paspampres ada, kiyai, ustadz ada, anggota dewan juga ada, kontraktor, pedagang, petani dan lain lain juga ada, mereka masih ingat madrasahnya dan turut serta mensyiarkan dan memperjuangkanya.” kata salah satu warga.

Dalam melakukan syiarnya pondok tersebut salah satunya adalah dengan menggelar rukyah gratis setiap malam jum’at usai sholat isya’ usai dzikir berjama’ah.

Seperti yg dituturkan oleh beberapa saksi sebut saja Utami (40) bersama anaknya yang bernama eka (19) dari kota Blitar yang jauh jauh rela ke Lmongan untuk mengikuti rukyah di pondok tersebut.

“Alhamdulillah di paringi jodoh mas, saya dan anak saya juga disembuhkan Alloh sehabis rukyah disana” ujar utami kepada warta hukum saat wawancara melalui media sosial.

Senada dengan apa yg di katakan Utami, peserta rukyah dari ngawi bernama Hindun (45) juga mengatakan hal yang sama, bahwa ketika usai di rukyah di pondok tersebut tubuhnya merasa lebih ringan serasa sehat jasmani dan rohani meski awalnya serasa pening, mual dan muntah-muntah.

Menurut pembina Pondok yang tidak mau di sebutkan namanya, dia mengatakan apa yang di lakukan di pesantren itu tidak lain adalah untuk syiar pondok pesantren yang sudah lama fakum sejak meninggalnya sang pendirinya, yaitu Mbah yai Hambali sejak tahun 1940 an, dan kini mulai di hidupkan kembali oleh pembina yang tidak lain adalah keluarga durriyah pesantren dengan dibantu alumni dan rekan-rekan Guru sekolahan didalamnya.

“Tidak hanya rukyah gratis setiap malam jumat itu saja yg kami gelar, kegiatan sosial yang kami lakukan diantaranya kami pernah membuat ivent pengobatan medis gratis bekerja sama dengan rekan-rekan komunitas sosial dari kota Gresik Surabaya dan sekitarnya, ya semoga saja manfaat untuk masyarakat, insya Alloh kalau jadi, bulan agustus depan kita akan adakan ivent bekam dan dokter gratis disini tepatnya akhir bulan agustus itu.” jelasnya.

Pondok tersebut selain jauh dari keramaian juga terlihat sangat sederhana, nampak pohon kurma di depan pesantren yang tumbuh subur dan sedang berbuah lebat menambah keunikan serta keanehan tersendiri terasa nuansa teduh dan asri saat memasukinya, pesantren tersebut terbilang kontemporer modern sekaligus terlihat nyentrik, sebab di situ tidak ada aturan jamaah pria yang dzikir diharuskan memakai busana islami atau kemeja koko, tidak sedikit terlihat beberapa jama’ah pria memakai celana jean kaos oblong tanpa peci turut serta ikut jama’ah dzikir rutinan di dalamnya, di pesantren tersebut juga merupakan awal mula didirikanya Majelis Masyarakat Maiyah Turanggah, (Turi Glagah /Turunan Glagah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *