Caleg Dari Partai PKB, HATAMI, S.Sos. Siap Perjuangkan Buruh dan Petani di Lampura

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

WH Lampung Utara: Politikus Muda Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Hatami, S.Sos. yang dari NO Urut 1 dari dapil 3 Mengajak kaum buruh dan petani untuk memilih Calon Legislatif (Caleg) pada Pemilu 2019 yang berkaitan dengan nasib buruh mendatang.

Hatami menilai hal ini perlu dilakukan agar aspirasi kaum buruh dan petani dapat terwujud melalui DPRD. Saat media berkunjung ke kantornya, Selasa 19/2/2019. “Saya ingin mengngajak masyarakat Pilihlah Caleg, dari partai mana pun tidak apa-apa. Yang penting lihat latar belakang caleg, dan jangan gara-gara uang suara buruh dan petani bisa dibeli, saya ingin para wakil rakyat yang akan datang bisa benar-benar menyerap aspirasi masyarakat lampung utara kususnya,” ujarnya

Hatami ini Muda dalam usia matang dalam berkaril dalam politik nya,apa bila nanti terpilih maka ingin memperjuangkan nasib buruh dan petani, karena sekarang ini wakil rakyat belum bisa sepenuhnya mendengarkan apa yang di ingin kan oleh masyarakat kecil, jadi kedepannya harus masyaratak ini lebih dewasa dalam pola pikirnya dalam memilih wakil rakyatnya. Selama ini sistem politik hanya menguntungkan Caleg berduit, sedangkan Caleg yang sungguh-sungguh ingin memperjuangkan Nasib masyarakat kecil menjadi sulit karena minimnya dana operasional caleg, dan Masyarakat sekarang terkontaminasi dengan kebijakan pragmatis, jadi bisa saja pilih pilihan yang diinginkan (wani Piro), ini sangat menyulitkan para caleg yang ingin serius mengabdikan diri kepada Masyarakat, otomatis jika operasional Pencalonan Caleg besar kompilasi diterima pasti para anggota dewan sibuk dengan harus memulangkan modal pencalonan realitanya ini, dan demikian halnya dengan tenaga kerja kerap tidak tersalurkan, karena ini diharapkan dapat membantu oleh pengusaha, sementara minimal anggota DPR yang berasal dari kaum buruh dan petani.

“Kalau masih begini terus sistem politik kita akhirnya selalu dikuasai pengusaha, dan Kaum buruh, petani hanya bisa menunggu kapan saja aspirasi bisa tersalurkan,” tegasnya. (Muhtar)