Long Live Education

WH Jakarta : 27 Januari 2019. Belajar seumur hidup, merupakan komitmen yang telah kami patri dan pahatkan pada kognisi, afektif, dan psikomotorik pada entitas akal yang berpikir. Sehingga dengan spirit ini, kami senantiasa konsisten membangun sikap dan karakter hidup menjadikan perbuatan usaha sadar, sebagai sesuatu yang “given”, dalam pribadi pengemban amanah Ruuhi.

Wahana dan media silaturahmi, kami jadikan sebagai “taman siswa, untuk menjadikan 3 pilar dasar palsafah pendidikan Ki Hadjar Dewantara, sebagai patron dan podoman hidup sebagai manusia sosial.

Pertama, Ing Ngarso Sung Tulodo, di depan memberikan teladan yang baik kepada sesama.

Kedua, Ing Madyo Mangun Karso, ditengah-tengah membangun kemanfaatan untuk sesama.

Ketiga, Tut Wuri Handayani, dibelakang mendorong untuk kemajuan bersama.

Taman Siswa, merupakan marwah dan substansi wadah silaturahmi yang kami selenggarakan. Kami ngobrol dan berdiskusi dengan suasana rasa yang riang, gembira, juga pastinya berbahagia. Karena cara sederhana inilah, kami mengejawantahkan rasa syukur berdaun-daun atas anugrah hidup yang sangat dahsyat dan hebat, pemberian Tuhan.

Wujud aplikasi spiritual alam Ruuhi ini, ketika kami saling berbagi, memberi, dan melayani. Perbuatan ringan dan sederhana ini, dimaksudkan untuk memelihara dan menyirami pikiran, perkataan, dan perbuatan agar berbuah ranum, matang, dan bermanfaat sebesar-besarnya untuk sesama.

Langkah kecil yang sederhana ini, kami pun melatih hingga mahir menetralisir pikiran liar yang negatif. Menjernihkan kaca hati menjadi bening dan transpran, agar jiwa-jiwa kami menjadi tentram dan senatiasa bersuka cita.

Konstruksi integritas yang kami rancang bangun, agar pilar-pilar satu kesatuan rumah spiritual menjadi berdiri kokoh, indah, dan asri. Jiwa kami kian bening, karena kecerdasan dan kesadaran menjadi patron dan suko guru hidup kami.

Kami tidak akan pernah kompromi dengan kultur dan habit hidup, “Senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang”. Mengapa demikian? Karena didalam setiap desah napas, aliran darah, otot, dan tulang belulang jasmani, akal, otak, hati, dan jiwa kami selalu dilingkupi energi “given” mengasihi dan menyayangi.

Merasakan kelezatan bersilaturahmi, kami mengisinya dengan kegiatan belajar bersama dan semua adalah murid. Karena guru besar hidup kami adalah “Sang Ruuhi”, yang bersemayam didalam diri kami masing-masing. Ruuhi-lah yang selalu mengajari, membimbing, dan menuntun kami menuju pencapaian kecerdasan dan kesadaran pada ruang ilmu pengetahuan tak terhingga! Seluas, sedalam, dan setinggi ruang dan waktu alam semesta.

Berguru ke padang datar, dapat rusa belang kaki, berguru kepalang ajar ibarat bunga kembang tak jadi.
Forum Silaturahmi Pengayom 4 RASI di aula Yudistira, Kembangan, Jakarta Barat, Indonesia.

(Ahmad Safei, S. H)
Kembangan, 27 Januari 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *