SKETSA FILSAFAT

WH Jakarta : 13 November 2018.

BAHASAN PERTAMA
Dalam bahasan pertama ini akan membahas wujud secara umum. Di dalamnya terdiri dari dua belas pasal:

Pasal: 1

Mudahnya Mengenal Wujud.
Memahami wujud tergolong ilmu mudah. Yakni tidak memerlukan daya pikir. Oleh karenanya dapat dipahami secara langsung tanpa perantaraan apapun dan tidak bisa didefinisi.

Pasal: 2

Satunya Makna Wujud.
Wujud memiliki satu makna. Yakni pemahaman wujud yang dipakai dalam segala esensi atau wujud murni ( Tuhan ) adalah sama. Seperti, Tuhan itu ada; Manusia itu ada; gunung itu ada; langit itu ada; dan lain-lain.

Pasal: 3
Wujud Bukan Esensi dan Mensifatinya.
Pahaman wujud berbeda dengan pahaman esensi. Dan karenanya akal dapat memisahkan wujud dari esensi, maka sebenarnya,wujudlah yang telah mensifati esensi di dalam akal sehingga dapat dikatakan maujud/ada.

Pasal: 4

Keasalan Wujud dan Keta’biran Esensi.
Wujud adalah asal segala sesuatu. Sedang esensi adalah penta’biran atau penjelasannya. “Manusia itu ada” dan “Kuda itu ada” adalah dua proposisi yang sama-sama menerangkan keberadaan sesuatu. Dalam contoh ini keduanya memiliki kesamaan, yaitu ada, dan memiliki perbedaan, yaitu manusia dan kuda. Karena kesamaan bukan perbedaan maka –dalam hal ini– wujud bukan esensi dan esensi bukan wujud. Dan karena esensi bisa diterangkan sebagai sesuatu yang ada/wujud atau tidak wujud/ada sedang tidak demikian halnya dengan wujud/ada –karena tidak bisa wujud diterangkan sebagai tidak-wujud– maka bagi setiap sesuatu wujud adalah keasalannya ( ashlun ). Oleh karena itu “ada” karena ada/wujud itu sendiri. Sedang esensi itu “ada” karena wujud/ada.

Catatan!
1- Setiap penetapan ada/wujud pada suatu esensi, seperti pada perkataan “Manusia itu ada”, maka sebenarnya penetapan itu secara langsung untuk ada/wujud itu sendiri. Sehingga proposisi itu pada hakikatnya berbunyi “ Manusia yang ada itu adalah ada”.
2- Wujud sebenarnya tidak bisa disifati dengan sifat-sifat esensi. Seperti sifat-sifat Universal, genus/jenis, Golongan, Pembeda, Substansi, Aksiden, Jumlah, Kwalitas, dan lain-lain. Karena semua itu adalah sifat-sifat yang mensifati esensi dari sisi pembenarannya karena setiap ekstensi –seperti pembenaran pemahaman manusia pada Joko atau Muhammad– atau dicakupnya sesuatu dibawah naungan golongan –seperti Muhammad di bawah manusia– atau golongan di bawah jenis– seperti manusia di bawah binatang– atau jenis di bawah jenis yang lebih luas -seperti binatang dibawah benda berkembang.
3- Wujud tidak bisa menjadi bagian dari yang lainnya. Sebab selain wujud adalah kebatilan/ketiadaan atau keberadaan yang tidak asal yang pada hakekat –dirinya adalah kebatilan ( esensi ).
4- Setiap yang mengiringi wujud dari sifat-sifat dan hukum-hukum atau berita -berita maka semua itu tidak keluar dari zatnya. Karena diluar zat-wujud adalah ketiadaan.
5- Yang wujud itu dibagi menjadi dua. Yang wujud karena dirinya –yakni ada– yang wujud karena yang lainnya –yakni esensi.
6- Di dalam akal wujud mensifati esensi. Oleh karenanya kita dapat memberikan atau menarik wujud dari esensi. Sedang di luar akal maka esensilah yang mensifati wujud. Oleh karenanya kita dapat mengabaikan esensi dan hanya memperhatikan ke-wujudan sesuatu.

7- Wujud identik dengan sesuatu. Sebab yang tak-ada tak mungkin dikatakan sesuatu.

8- Wujud tidak memiliki sebab untuk ada/wujud kecuali dari wujud itu sendiri. Sebab di luar wujud adalah ketiadaan/kebatilan. Oleh karenanya wujud-lemah hanya memerlukan kepada wujud-kuat.

Pasal: 5

Wujud Adalah Satu yang Bertingkat.
Wujud adalah satu hakikat namun bertingkat. Yakni apapun yang membedakan antara satu wujud dengan wujud lain, maka hal itu tidak mungkin disebabkan oleh selain wujud itu sendiri. Sebab di luar wujud adalah kebatilan/ketiadaan.

Pasal: 6

Kekhususan wujud
Wujud memiliki tiga kekhususan:
1- Keberadaan wujud karena dirinya sendiri.
2- Wujud memiliki tingkatan yang ia tidak keluar dari tingkatan tersebut.
3- Wujud mensifati esensi yang berbeda-beda, namun secara tidak langsung. Akan tetapi pensifatan ini berbeda dengan pensifatan-pensifatan yang lain. Sebab yang lainnya akan tersifati kalau ia telah memiliki keberadaan. Di sini, esensi tidak bisa ada/wujud terlebih dahulu untuk kemudian disifati dengan wujud. Tapi justru dengan wujud itulah ia ( esensi ) menjadi eksis atau wujud.

Pasal: 7

Hukum-hukum Negatip Wujud
1- Tidak ada keberadaan selain wujud. Karena selain ada/wujud adalah ketiadaan.
2- Tidak ada dualisme ( yang lain ) dalam wujud. Sebab dualisme timbul dari keberlainan. Dan keberlainan timbul dari dua eksistensi. Sedang selain wujud adalah ketiadaan-mutlak.
3- Wujud bukan substansi dan aksiden. Sebab keduanya itu adalah esensi. Sedang wujud bukanlah esensi. Tapi bahkan yang mewujudkan esensi.
4- Wujud bukan bagian dari yang lain. Sebab selain wujud adalah ketiadaan.

Pasal: 8

Makna Kenyataan yang Sebenarnya.
Kenyataan yang sebenarnya adalah kebenaran suatu predikat terhadap subyeknya. Baik kebenaran itu sesuai dengan ukuran keberadaan dalam akal atau luar akal. Seperti “Pahaman manusia itu adalah universal” atau “Tuhan itu ada”.

Pasal: 9

Sesuatu itu Sama dengan Wujud.
Sesuatu itu sama dengan wujud. Oleh karenanya yang tak wujud bukan dan/atau tidak dapat dikatakan sebagai sesuatu.

Pasal: 10

Tiada itu tidak Memiliki Perbedaan dan Sebab.
Tiada tidak memiliki perbedaan. Karena perbedaan itu timbul dari keberadaan. Sedang tiada adalah tiada. Bukan ada.

Pasal: 11

Tiada itu Tidak Memiliki Predikat/berita.
Tiada-mutlak tidak bisa dipredikati dengan predikat apapun. Sebab predikat itu timbul dari sesuatu yang akan dipredikati tersebut. Oleh karena itu yang bukan sesuatu, tidak akan dapat dipredikati atau dikabari dengan suatu apapun.

Pasal: 12

Yang Telah Tiada Tidak Bisa Diulang.
Sesuatu yang telah tiada tidak bisa diadakan lagi persis seratus persen seperti semula. Sebab:
1- Kalau sesuatu yang telah tiada itu diadakan lagi secara persis, maka satu keberadaan berada dalam dua jaman.
2- Kalau pengulangan secara persis itu dibolehkan, maka maad itu sama dengan permulaan. Dan ini adalah mustahil.
3- Kalau pengulangan itu dibolehkan, maka dari awal bisa diwujudkan wujud lain yang persis. Hal ini adalah mustahil. Sebab dua wujud persis seratus persen itu adalah mustahil.
(Korlip Nasional. Ahmad Safei, SH).
Kembangan, 13 November 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *