Konsep Nur Muhammad

WH Jakarta :  12 November 2018. Nur Muhammad dalam tasawuf merupakan makhluq yang pertama sekali diciptakan oleh Allah Swt dan setelah itu baru diciptakan alam yang lainnya. Nur Muhammad sering juga disebut Hakikat Muhammad atau Ruh Muhammad. Untuk pertama kalinya, konsep Nur Muhammad dibawa oleh seorang sufi bernama al-Hallaj.

Ensiklopedia Islam menyebutkan bahwa Nur Muhammad atau Cahaya Muhammad, dalam filsafat tasawuf adalah paham bahwa yang pertama diciptakan Allah Swt adalah Nur Muhammad dan darinya segala yang lain diciptakan.

Nur Muhammad terdapat bukan hanya dalam diri Muhammad Saw, tetapi juga dalam diri nabi-nabi yang lain. Nur Muhammad muncul pertama kali dalam diri Adam, kemudian dalam diri nabi-nabi lain, tetapi belum mencapai kesempurnaan.

Kesempurnaannya baru tercapai dalam diri Nabi Muhammad Saw. Maka Nabi Muhammad Saw dalam istilah sufi adalah al-Insan al-Kamil, manusia sempurna. Tidak ada manusia lebih sempurna dan lebih mulia dari Nabi Muhammad Saw.

Gagasan Nur Muhammad pertama kali dicetuskan oleh seorang tokoh sufi dari Iraq yang bernama Sahal Abdullah al-Tusturi pada abad ke 9 Masehi. Selanjutnya dikembangkan oleh al-Hallaj, Ibnu Arabi dan Abdul Karim al-Jilli.

Gerhard Bowering dalam buku : Dan Muhammad Adalah Utusan Allah, dalam telaah mendasarnya tentang peranan Nabi Saw dalam teologi al-Tusturi menulis:

“Allah, dalam keesaan-Nya yang mutlak dan realitas transenden-Nya, ditegaskan oleh Tusturi sebagai misteri yang tak tertembus dari cahaya Ilahi yang bagaimanapun juga mengungkapkan dirinya sendiri dalam perwujudan pra keabadian dari ‘persamaan cahaya-Nya’ (matsalu nurihi), yaitu ‘persamaan cahaya Muhammad’ (Nur Muhammad).

Asal-usul Nur Muhammad dalam pra keabadian dilukiskan sebagai suatu masa bercahaya dari pemuliaan primordial di haribaan Allah yang mengambil bentuk suatu tiang tembus cahaya (amud), cahaya Ilahi dan membentuk Muhammad sebagai ciptaan utama Allah. Dengan demikian, dalam menjelaskan tentang terminologi ayat cahaya itu, Tustari berkata: Ketika Allah berkehendak untuk menciptakan Muhammad, Dia memunculkan sebuah cahaya dari cahaya-Nya. Ketika ia mencapai selubung keagungan (hijab al-azhamah), ia membungkuk dan bersujud di hadapan Allah.

Allah menciptakan dari sujudnya itu sebuah tiang yang besar bagaikan kaca kristal dari cahaya, yang dari luar maupun dari dalam dapat ditembus pandang.”

Yang menarik, Tusturi juga mengaitkan surat al-Najm dengan cahaya Muhammad. Dia tidak menafsirkan surah ini dengan peristiwa penglihatan permulaan Nabi atau perjalanannya ke langit, tetapi justru menyatakan bahwa kata-kata ‘Dan dia melihat-Nya lagi di waktu yang lain’ mengandung arti pada awal waktu, ketika tiang cahaya Muhammad berdiri di hadapan Allah, jelasnya sebagai berikut:

Sebelum dimulainya penciptaan selama sejuta tahun, dia berdiri di hadapan-Nya untuk memuja-Nya, dengan keteguhan iman, dan (kepadanya) diungkapkan misteri oleh misteri itu sendiri di pohon Sidrah di Tapal Batas’, yaitu pohon di mana pengetahuan setiap orang berakhir.’

Lalu, ketika penciptaan dimulai, Allah menciptakan Adam dari cahaya Muhammad, sebagai berikut:

“Cahaya para nabi berasal darinya, dari cahaya Muhammad. Dan cahaya kerajaan langit, malakut, adalah dari cahayanya, cahaya dunia ini dan dunia yang akan datang berasal dari cahayanya.’

Selanjutnya Bowering melanjutkan penafsirannya atas doktrin Tusturi:

Akhirnya ketika kemunculan para nabi dan alam raya spiritual di dalam pra keabadian telah sempurna, Muhammad dibentuk tubuhnya, dalam bentuk temporal dan teresterial, dari lempung Adam, yang telah diambil dari tiang Nur Muhammad dalam pra keabadian.

Dengan demikian, penciptaan cahaya pra keabadian telah disempurnakan: manusia pertama itu dicetak dari cahaya Muhammad yang telah terkristal dan mengambil sosok pribadi Adam.”

Seperti telah dikatakan oleh Ibnu Arabi tiga abad setelah Tusturi, bahwa Nabi Saw adalah seperti benih umat manusia. Dan para penyair tak henti-hentinya melukiskan tentang peristiwa itu, yaitu bahwa Muhammad ternyata ada lebih dahulu dibanding Adam dalam esensinya, meskipun secara lahiriah dia adalah keturunannya.

Ibnu Arabi berkata: ‘Ketahuilah bahwa cahaya-cahaya alam semesta ini, dari arsy, farsy (hamparan), langit, bumi, surga, hijab, hingga lebih atas lagi, atau dibawahnya, jika seluruhnya dikumpulkan, maka hanya sepadan dengan sebagian cahaya Nabi Saw. Seluruh cahaya Nabi Saw, seandainya diletakkan di arsy, maka arsy akan terbelah.

Seandainya cahaya itu diletakkan di atas tujuh puluh hijab, maka ia akan berserakan. Seandainya seluruh makhluk dikumpulkan dan di atasnya diletakkan cahaya agung, niscaya akan berterbangan dan jatuh.’

Konsep Nur Muhammad berhubungan dengan pencapaian manusia (sufi) pada derajat insan kamil (manusia sempurna), yaitu manusia yang sudah mencapai tingkat tertinggi dari sifat kemanusiaannya atau manusia yang telah memiliki Nur Muhammad, Hakikat Muhammad atau Ruh Muhammad tersebut.

Menurut al-Jilli dalam kitabnya Insan Kamil, benda-benda yang diciptakan dari Nur Muhammad adalah benda-benda yang diciptakan dari Nur Tuhan. Jadi dalam setiap benda terdapat Nur Muhammad, hanya yang sempurna terdapat pada diri nabi-nabi, dan yang paling sempurna adalah pada diri Nabi Muhammad Saw.

Nur Muhammad bukan Nabi Muhammad Saw dan Nabi Muhammad Saw bukan Nur Muhammad. Tetapi Nur Muhammad mengambil bentuk pada diri Nabi Muhammad Saw. Oleh karena itu, meskipun Nabi Muhammad Saw telah wafat, Nur Muhammad tetap abadi dan dapat menampakkan diri pada seseorang yang masih hidup yang dikehendakinya, seperti pada para sufi besar, terutama pada keluarga dan keturunan Nabi Muhammad Saw.
Bersambung,

(Korlip Nasional. Ahmad Safei, SH).
* Sumber bacaan Myskat al-Anwar, Al-Ghazali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *