Grebek Suro Desa Tarokan Kediri

WH Kediri : Bulan Suro merupakan bulan yang begitu sakral bagi sebagian masyarakat di Indonesia terkhusus masyarakat jawa dimana bulan suro dianggap suatu bulan sebagai upaya untuk menemukan jati dirinya agar selalu tetap eling lan waspodo.

Eling artinya harus tetap ingat siapa dirinya dan dari mana sangkan paraning dumadi (asal mulanya), menyadari kedudukannya sebagai makhluk Tuhan dan tugasnya sebagai khalifah manusia di bumi, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Waspodo, artinya harus tetap cermat, terjaga, dan awas terhadap segala godaan yg sifatnya menyesatkan. Karena sebenarnya godaan itu bisa menjauhkan diri dari Sang Pencipta, sehingga dapat menyulitkan kita dalam mencapai manunggaling kawula gusti (bersatunya makhluk dan Sang Khalik).

Bulan Suro sebagai awal tahun Jawa, bagi masyarakatnya juga disebut bulan yg sangat sakral karena dianggap bulan yg suci atau bulan untuk melakukan perenungan, berintrospeksi, pembersihan jasmani rohani serta mendekatkan diri kepada Hyang Widhi.

Cara yg dilakukan biasanya disebut dengan lelaku, yaitu mengendalikan hawa nafsu dengan hati yg ikhlas untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Itulah esensi dari kegiatan budaya yg dilakukan masyarakat Jawa pada bulan Suro.

Dahulu lelaku tersebut leluhur kita bisanya melakukan puasa, nyepi untuk beberapa haru atau satu bulan penuh ataupun tergantung pribadi masing2 dalam lelaku, biasanya lelaku tersebut dilakukan ditempat yang dianggapnya bisa tenang dan jauh akan keramaian(digua, di hutan, atau dipadepokan, dikamar,dan lain sebagainya.

Lelaku yg dilaksanakan oleh masyarakat Jawa sebagai media introspeksi biasanya banyak sekali caranya. Ada yg melakukan lelaku dengan cara nenepi (meditasi untuk merenungi diri) di tempat-tempat sakral seperti di puncak gunung, tepi laut, makam para wali, gua dan sebagainya.

Ada juga yg melakukannya dengan cara lek-lekan (berjaga semalam suntuk tanpa tidur hingga pagi hari) di tempat-tempat umum seperti di alun-alun, pinggir pantai, dan sebagainya.
Sebagian masyarakat Jawa lainnya juga melakukan cara sendiri yaitu mengelilingi benteng kraton sambil membisu.

Begitu pula untuk menghormati bulan yg sakral ini, sebagian masyarakat Jawa melakukan tradisi syukuran kepada Tuhan pemberi rejeki, yaitu dengan cara melakukan labuhan dan sedekahan di pantai, labuhan di puncak gunung, merti dusun atau suran, atau lainnya.

Dan karena bulan Suro juga dianggap sebagai bulan yg baik untuk mensucikan diri, maka sebagian masyarakat lain, melakukan kegiatan pembersihan barang-barang berharga, seperti jamasan keris pusaka, jamasan kereta, pengurasan enceh di makam-makam, dan sebagainya. Ada juga yg melakukan kegiatan sebagai rasa syukur atas keberhasilan di masa lalu dengan cara pentas wayang kulit, ketoprak, nini thowok, dan kesenian tradisional lainnya.

Hal serupa pun juga di lakukan oleh Kades Tarokan Kecamatan Tarokan Kabupaten Kediri yakni dengan mengadakan sedekah bumi dengan tradisi arak-arakan hasil bumi . Sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berbagai berkat yang di berikan kepada seluruh warga Desanya,lewat hasil bumi yang melimpah hingga dapat meningkatkan kesehjahtraan rakyatnya pada Sabtu 22/9/18.

Tradisi yang berjalan tiap tahun dan telah berjalan selama 5 tahun kepemimpinannya ini,sangat menarik antusiasme masyarakat ,’dimana tradisi yang telah lama hilang kini di mulai kembali sejak kepemimpinan Kepala Desa Supadi.  Antusiasme tersebut, terlihat dari sambutan warga di setiap dusun,’yang tanpa lelah menunggu kedatangan iring-iringan gulungan hasil panen untuk di perebutkan.

Terpisah Supadi Kades setempat di temui pasca tajuk berlangsung,menjelaskan bahwa tradisi yang dilakukan selama masa kepemimpinannya ini. Adalah sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa akan selalu berlimpahnya,segala hasil bumi di Desa tarokan yang tentu dapat mensehjahtrakan warganya. Juga memohon,’agar di tahun ini semoga Desanya dijauhkan dari segala hal yang buruk ataupun sial” Jelasnya.

Lanjut’dirinya juga berpesan tajuk – tajuk yang berlangsung hari ini,murni dari pengeluaran pribadinya. Bukan dari pihak Desa ataupun iuran dari masyarakat,sebab dirinya begitu bersyukur akan segala nikmat yang di berikan kepada Desanya seperti di tahun-tahun sebelumnya”Ungkapnya. (Tian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *