HUT Ke-9 Goong Perdamaian Dunia Di Situs Ciung Wanara Karangkamulyan, 9 Tokoh Daulat Pukul Goong

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

WH Ciamis : Dalam rangka memperingati hari ulang tahun Goong perdamaian dunia (World Peace Gong) yang ke 9 di Kuta Purba Galuh Situs Ciung Wanara Desa Karangkamulyan Kecamatan Cijeungjing Kabupaten Ciamis sembilan tokoh daulat pukul Goong.

Ribuan Warga dari seluruh Wilayah tatar Sunda berbondong bondong menyaksikan acara ini dan dihadiri langsung oleh penggagas serta pendiri World Peace Gong, Irjen Pol (Purn) Anton Charliyan, sejumlah raja dari berbagai belahan nusantara, utusan Masyarakat Adat, Kabuyutan Galuh, Kapolres Ciamis, AKBP Bismo Teguh Prakoso, Muspida, Pejabat Dinas, dan lainnya ikut serta dalam memeriahkannya.

Saat di wawancara Warta Hukum Irjen Pol (Purn) Anton Charliyan menerangkan, “Ide dan gagasan berdirinya Gong Perdamaian Dunia di Kuta Galuh Purba di Situs Ciung Wanara Karangkamulyan ini atas pertimbangan bahwa Kerajaan Galuh merupakan kerajaan yang lahir dan besar dengan semangat perdamaian dan kebersihan hati, jauh dari semangat perluasan wilayah dengan perebutan kekuasan (ekspansi/ perang untuk penaklukan) dan menghindari perang saudara.

“Dalam sejarah Kerajaan Galuh tak dikenal perluasan kekuasaan melalui ekspansi, Makanya Wilayah Galuh tersebut dari berbagai generasi, baik itu Galuh Purba (Abad ke-7) sampai Galuh Abad kesatu, wilayahnya tetap saja dari Ujung Kulon sampai Cilacap, Teritorialnya tidak bertambah tidak berkurang, tidak seperti Mataram maupun Sriwijaya, “Terangnya.

“Dalam konsep pemerintahan Kerajaan Galuh, ada tiga peran yakni Ratu (Raja/eksekutif), Resi (yudikatif), dan Rama (Legislatif). Rama dan Resi bisa menurunkan raja dan mengangkat raja yang baru. Semacam trias politica. Itu sudah ada sejak era Kerajaan Galuh Purba, “Paparnya.

Dari berbagai literasi dan peninggalan sejarah, menurut Anton pada tahun 737 masehi terjadi pertikaian antara Raden Manarah (Ciung Wanara) dari Galuh dengan Raden Sanjaya (Raja Kalingga). Padahal mereka masih bersaudara satu turunan. Pertikaian tersebut dapat memicu perang saudara. Akhirnya Resi dan Rama turun tangan mencari cara damai lewat musyawarah (sawala), musyawarah tersebut menghasilkan 10 seruan damai, Kesepuluhnya adalah :

(1) menyudahi permusuhan (mawusana panyatrawanan)
(2) bekerjasama (atuntunan tangan),
(3) saling membantu (paras paropakara),
(4) menjalin persahabatan (mitra samaya),
(5) tidak boleh balas dendam (paribhaksa),
(6) penyelesaian dengan damai (telasaken apa kenak),
(7) pertemuan/sialturahmi dan musyawarah (mapulung rahi),
(8) semangat persaudaraan (kaharep saduluran),
(9) tidak saling menyerang (parapura) dan
(10) menghormati yang berhak (maryapada sakengsi tutu)

Ke-10 seruan damai peninggalan kearifan Kerajaan Galuh Purba guna mengatasi ancaman pertikaian (perang saudara), menurun Anton masih relevan dengan kondisi bangsa saat ini. Ketika nusantara dilanda banyak fitnah dan ancaman pertikaian, terlebih menjelang Pileg dan Pilpres setelah pelaksanaan Pilkada Serentak, “Seruan damai dari Galuh ini masih relevan untuk mengatasi persoalan bangsa saat ini,” ujar Anton.

Atas semangat tersebutlah secara pribadi mengagas berdirinya gong perdamaian di Situs Karangkamulyan, “Saya  bersama Pak Cucu menggagas gong perdamaian ini. Hanya berdua, sehingga bisa terwujud seperti sekarang ini. Sudah Sembilan tahun gong ini berdiri, menggaungkan semangat perdamaian ke seantero dunia. Di dunia ini hanya ada 40 gong perdamaian,” jelas Anton Charliyan kepada Warta Hukum.

Kemeriahan Hari ulang tahun Goong Perdamaian Dunia yang ke-9 ini, selain diwarnai dengan berbagai macam pameran hasil karya dan kerajinan tangan para budayawan Sunda dari seluruh penjuru, acara ini dimeriahkan juga dengan berbagai tampilan kesenian tatar sunda, yaitu seni tari manis yang dibawakan oleh anak-anak seni dari sanggar seni tari Kinanti asih pimpinan Nurlia Puspa dari Handap herang Ciamis, tari kreasi yang dibawakan oleh siswa SD Negeri 2 Cihaurbeuti yang menceritakan anak desa sedang mengusir hama padi di sawah, dan tari buah kawung, disamping itu ada juga seni pagelaran pencak silat yang dibawakan oleh anak-anak seni perguruan pencak silat Putra Siliwangi pimpinan abah Koko dari kota Banjar, bahkan ada juga tarian seni ebeg, Bebegig, wayang Landung dan seni seni lainnya.

Puncak dari even ini adalah ‘Bewara Agung Budayawan Dedi Mulyadi’. Yang akan menampilkan musisi handal ibu kota, pecinta budaya dan tradisi Charly Van Houtten.

Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata kabupaten Ciamis Budi Kurnia mengatakan even ini momentum Ciamis untuk menarik wisatawan domestik. Dalam kegiatan ini pihaknya mengumumkan potensi wisata yang ada di ciamis, Dalam deklarasi bewara agung galuh.

Dirinya sangat berharap Ciamis dengan Galuh yang sangat melekat dapat mendongkrak pariwisata. Persoalannya saat ini, baru sedikit kalangan yang paham posisi galuh. Dengan digelarnya even galuh yang dikemas kekinian sehingga banyak yang tahu akan besarnya nama Galuh di Indonesia ini, “Setiap even kami gelar dengan nama Galuh, supaya dapat menarik wisatawan domestik maupun wisata asing,” tutur Budi.

Masih menurut Budi Kerajaan Galuh memiliki arti bagi kita semua, bahwa galuh sebuah kerajaan yang menyebarkan peradaban hingga adanya sunda kecil (Bali), hingga adanya masyarakat Galuh Agung (Nusantara) , “Even ini ngajak urang sunda supaya orang sunda tidak meluapan asal usul dan jati dirinya,” jelasnya. (Chefy/Nur)