Merasa Dicemarkan Nama Baiknya Ketua PKRI Laporkan Media Online Ke Bareskrim .

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

WH Jakarta : Diduga merasa dirugikan dengan pemberitaan yang sepihak dari sebuah media online, Ketua Lembaga Negara Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia (PKRI) Prof. Dr. E Irwannur Latubual MM. MH. PhD melaporkan media tersebut ke Bareskrim, Senin, 13  Agustus 2018.

“Kalau mengenai ketegangan Petugas Pamdal dengan kehadiran saya saat bertamu ke Gedung DPR RI itu hanya miss komunikasi saja dan saya tidak pernah di usir oleh Pamdal dan itu sudah diselesaikan,” ujarnya kepada Wartawan di Kawasan Komplek Parlemen DPR RI, Senayan Jakarta, Selasa (14/8/2018).

Menurut Irwannur, dirinya sangat kaget ketika hendak ke Hotel Cempaka seusai kunjungan di DPR RI dia mendapat kiriman berita dari media online yang isi pemberitaan media itu ternyata tidak nyambung karena tidak ada keterkaitan dengan kejadian hari itu dengan hal lainnya yang sudah berlalu menyangkut tentang diri Irwannur. Karena merasa tidak pernah di konfirmasi tentang temuan media online itu serta merasa dipojokan akhirnya Irwannur melapor ke pihak berwajib.

“Saya sudah melaporkan ke polisi dan semoga kasus ini cepat di selesaikan oleh pihak polisi. Ini pembunuhan karakter terkait nama baik saya, dan jelas pidananya terkait berita media lokal ini tidak ada hubungannya dengan waktu kejadian dengan pamdal soal pengamanan di DPR RI dalam rangka persiapan pidato presiden,”tegas Irwan yang mengaku dari Lembaga Negara Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia (PKRI).

Sementara itu, ketika di hubungi untuk di konfirmasi media online tersebut tidak di dapat nomor kontaknya karena di Box Redaksi tidak terdapat nomor kontak redaksinya.

“Setelah melakukan pengecekan ternyata nama media itu tidak terdaftar di Dewan Pers,”pungkas anggota Dewan Pers Leo Batubara di dampingi stafnya di kantor Dewan Pers.

Dengan kejadian ini Irwan juga berharap kepada para awak media media atau kuli tinta agar berita berita hoax ini dihindari dan menjadi pelajaran untuk para media kedepannya. (Martin/Johan)