Pelaksana Proyek Pembangunan Dermaga Jetty Di GWD Banyuwangi Di duga Ada Oknum Bermain, Terkait Pelaksanan Lelang dan Merugi.

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

WH Banyuwangi : Nampaknya proyek pembangunan Dermaga Jetty dibawah Satuan Kerja (SatKer) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi menjadi permasalahan.

Hal ini lantaran proyek yang dikerjakan sejak tahun 2016 dengan anggaran lebih dari 2 Millyar itu sampai saat ini anggarannya tidak bisa dicairakan. “Sampai saat ini proyek yang dikerjakan CV saya tersebut masih belum cair”, ungkap Edy selaku pemilik CV.

Menurut Kepala Dinas (Kadis) Disbudpar Banyuwangi, M. Yanuarto Bramuda, tidak bisa dilakukan pencairan terhadap proyek tersebut dikarenakan fakta kondisi dilapangan tidak sesuai dengan serah terima yang diserahkan.

“Kendalanya sampai saat ini belum dicairkan karena yang diserah terimakan tidak sesuai dengan fakta yang ada dilapangan”, katanya melalui telepon selulernya, Jumat (24/8/2018).

Saat ini, lanjutnya, masih dilakukan proses pengecekan kembali dari Inspektorat, karena sekitar 2 bulan yang lalu pihak CV mengajukan kembali serah terima untuk pencairan.

“Saya kembali minta ke pihak Inspektorat melakukan pengecekan dilapangan untuk menentukan proyek tersebut layak atau tidaknya dibayar. Pengecekan tersebut melihat kondisi fakta dilapangan apakah sama dengan serah terima yang diajukan CV terhadap Pemerintah Daerah”, jelasnya.

Diketahui, permasalahan proyek tersebut terjadi lantaran awalnya CV yang mengerjakan hanyalah dipinjam benderanya. Hal tersebut di ucapkan oleh Edy si pemilik CV. “Pekerjaan itu awalnya yang bermain diduga pihak Konsultan dan Dinas. Dimana Konsultannya selaku perancang dan pengawas juga turut dalam pengajuan lelang. Dan Konsultan tersebut bekerjasama dengan inisial K yang bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di KPU Banyuwangi”, bebernya.

Selain itu, Gus Edy panggilan akrabnya, mengatakan bila dalam proses lelang, agar dapat memenangkan pekerjaan tersebut, Oknum “K” diduga dibantu oleh okum ASN lain yang bekerja di Satuan Kerja (SatKer) Ispektorat Banyuwangi berinisial BB. “K” dibantu oleh BB dalam mengawal proses lelang sehingga bisa menang”, terangnya.

Ditengah pejalanan, lanjutnya, pada proses pengerjaan yang baru sekitar 3% dilakukan, Oknum K tersebut melarikan diri sehingga pihak dinas menekan Edy selaku pemilik CV agar segera menyelesaikan pekerjaan tersebut. Dan saya pun mengerjakan tanpa memiliki RAB, karena RAB yang memegang oknum “K” tersebut.

“Karena CV tersebut milik saya, maka saya dikejar oleh pihak dinas agar segera menyelesaikan pekerjaan tersebut, dan saya mengerjakan tanpa memegang RAB. Saya pun meminjam modal bahkan sampai menggadaikan mobil saya untuk mendapatkan dana guna menyelesaikan pekerjaan tersebut, tetapi sayangnya sampai saat ini dinas tidak mencairkan, padahal proyek tersebut dikerjakan pada tahun 2016 dan sudah berkali-kali dilakukan perbaikan”, lanjutnya.

Edy menambakan bila akibat adanya permasalahan tersebut, dirinya rugi baik meteri maupun non materi. “Hutang saya di Bank Jatim mencapai kurang lebih 1,3 Millyar. Selain itu akibat kaget karena tidak bisa cair, saya hampir mati dan terkena struk selama setahun. Padahal kalau dilihat kondisi dilapangan, perencanaan awal itu diduga salah karena pekerjaan diletakkan diposisi pas bertemunya arus utara dan selatan sehingga gelombang ombak laut begitu besar. Bahkan konsultan pun tidak mengawasi setiap hari”, imbuhnya.

Kemudian dikonfirmasi terpisah, Yusup selaku konsultan proyek tersebut mengatakan bila proyek itu diduga tidak sesuai teknis. “Itu pengerjaannya tidak sesuai teknisnya. Gmn mau sesuai, sedangkan si pemilik proyek aja tidak memegang Rancangan Anggaran Biaya (RAB)”, terangnya.

Saat ditanya terkait informasi adanya dugaan bila pihak konsultan yang mengondisikan barang-barang yang digunakan yang diketahui diambil dari salah satu pabrik yang ada di daerah Bandung, Yusup menjawab informasi tersebut tidak benar. “Ga benar itu mas, saya ke pabrik karena untuk pembuatan rancangan. Sebagai perancang kan harus tau gimana proses pembuatan dan kuwalitas barang yang akan digunakan”, tepisnya.

Sayangnya, sampai berita ini diterbitkan, Oknum ASN berinisial K dan BB belum dapat dikonfirmasi. (Tim/Guf )