PUTRA PATUH SEMBELIHAN ALLAH

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh: Umar Usman

WH Jakarta : 21 Agustus 2018. Obsesi pasangan suami istri ketika menghasratkan zuriat dalam mahligai nirwana rumah tangga, lahirnya putra putri dambaannya. Keniscayaan ini menjadi puspamega dan harubiru bagi pasutri. Kelak putra putrinya mengukir prasasti dengan tinta emas dan menggelar karpet merah untuk dinasti zuriatnya.

Karpet merah yang di tutur tinulat oleh peradaban mahkamah sejarah manusia sebagai penghuni graha besar yang jamak kita namai bumi. Ukiran prasasti yang mengabadi, tak habis ditelan waktu, tak lekang oleh panas mentari dan tak lapuk karena tirta membasahi buana terbentang luas. Prasasti yang menjadi rujukan maklumat dan pilar hidup sebagai hukum dasar yang langgeng dari era ke era.

Alkisah pada bilangan 1881 SM, lahirlah anak bumi yang mashur, kita semua memanggilnya Nabi Ismail As, putra yang lahir dari rahim seorang ibu bernama Siti Hajar dan ayahnya Nabi Ibrahim As.

Rentang tutur tinulat dari 1881 SM ke 2018 M, prasasti sejarah itu setiap tahun diabadikan sebagai hari penyembelihan anak manusia yang eksekutornya ayah kandung atas maklumat Tuhan pemilik perbendaharaan cetak biru catatan-Nya.

Kisah heroik dan mashur ini Tuhan abadikan dalam prasasti Qur’an:

“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”
(QS. As-Saffa[37]:102).

Melepaskan kemelekatan kasih dan sayang kepada putra biologis tentulah tak mudah buat seorang ayah. Musafir dari negeri Palestina ke kota Mekkah dengan kendaraan unta melintas gurun sahara bak tak bertepi, tentulah sesuatu yang sulit dijalani. Menerima dengan nalar sehat terhadap kenyataan ini. Siapa yang sanggup melakoninya?

Perjalanan Ibrahim As dan Siti Hajar dari Palestina ke Mekkah saat ini dapat diukur sekitar 800 km, dengan kendaraan unta melintas padang pasir. Badai pasir, terik matahari kisaran 40 sedajat celcius. Ibunda Siti Hajar mengandung 9 bulan dengan minimnya fasilitas. Bahkan belum ada sama sekali.

Panas terik mentari di kota Mekkah menerpa bayi mungil tanpa peneduh yang memadai, bagian babat kisah yang mencekam. Tangis histeris karena dahaga tentulah membuat naluri seorang ibu melakukan apapun demi sereguk air.
Plot babat ini bagian kecil dari ikhtiar yang paripurna dan heroik untuk membesarkan putra kesayangan bernama Ismail.

Kisah pencarian setetes air oleh bunda Ismail, menjadi prasasti dan pilar rukun haji_ sa’i Safah Marwah sejauh 400 m sebanyak 7 kali, sama dengan 2800 m Ibunda Ismail berlari. Air abadi terjangan kaki seorang putra terbaik bumi,  jamak disebut air zam-zam.

Membesarkan bayi Ismail As dari orok sampai pemuda belia, tentulah suatu keadaan yang paling sulit bila dibandingkan kondisi kekinian. Tampan, gagah, dan trengginas. Postur tubuh atletis, hidung mancung, dan mata rajawali, perlambang pemuda yang memancarkan cahaya illahi. Sempurnalah pemuda itu!

Kabar baik atau burukkah dari langit?
Ketika ayah menerima maklumat dari Tuhan pemilik semesta, agar mahkamah sejarah penyembelihan putra kesayangan mesti segera dilaksanakan?

Diskusi kecil itu terjadi. Ayah Ibrahim As bertanya kepada putra Ismail:

“Aku akan menyembelihmu”. Terjadi gejolak kejiwaan ayahanda Ismail dengan mahkamah penyembelihan itu. Lain sisi bagaimana pergolakan jiwa putra Ismail As, sejak dialog ayahanda menyampaikan maklumat tentang penyembelihan terhadap dirinya. Akan tetapi dengan santun dan lugas Ismail menjawab:
“Lakukanlah apa yang Allah perintahkan”.

Putra terbaik yang pernah hidup dibumi, bernama Ismail As telah menyempurnakan kepatuhan kepada ayahandanya.

Ketakutan menghadapi kematian, semua kita mengalami, rasa mencekam, kengerian yang menyeramkan bahkan rasa akut kronis kematian? Berita menggelegar bak petir disiang hari. Proses kematian itu dengan cara disembelih dengan pedang yang tajam dileher putra kesayangan Ismail As.
Situasi dan kondisi yang mencekam ini, pengalaman spiritual yang paling meneganghkan yang dirasakan oleh Ismail As tentunya.

Jika saja peristiwa eksekusi penyembelihan dilakukan bukan oleh ayahanda Ibrahim As, mungkin saja dapat mengurangi rasa takut yang mencekam itu. Realitas penyembelihan ini, mesti dilakukan oleh Ayahanda, sungguh tidaklah mudah maklumat Tuhan ini untuk dilaksanakan dan menjalaninya.

Untuk ibunda dan Ayahanda Ibrahim As, puncaknya adalah kehilangan putra terbaik yang mereka sayangi dan cintai. Namun, teruntuk Ismail, meregang nyawa dan kematian menjemputnya.

Keberanian bahkan kenekatan seorang putra belia Ismail As, menerima peristiwa penyembelihan atas dirinya tentulah merupakan totalitas kepasrahan dan kepatuhan menjalani maklumat Tuhan.

Pengganti dan simbol seekor Kambing sebagai perlambang pengorbanan, sejatinya Ismail As, paripurna menjalani prosesnya. Leher pemuda belia, siap dipenggal dan sang eksekutor menghunus dan menempelkan pedang tajam atas kehendak Tuhan berubah menjadi seekor Kambing.
Puncak tertinggi kepasrahan spiritual itu, totalitas dikorbankan dan menerimanya.

Mahkamah sejarah itu hari Idul Qurban. Sudahkah kita mahfum dan berhikmat melaksanakan pengorbanan dan dikorbankan sebagai anak bumi?. Korlip Nasional

Kembang, 21 Agustus 2018