Hari ini Harga Daging Ayam Tembus Rp. 43.000/Kg, Pedagang Menjerit..!!!!

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

WH Sidoarjo : Harga daging Ayam masih terus bergerak naik. Di awal pekan, Selasa (24/7),  kebutuhan pangan ini dipasarkan bervariasi antara Rp. 39.000 hingga Rp. 43.000 per/kg, atau mengalami kenaikan berkisar Rp. 5.000 sampai Rp. 7.000 setiap Kg dibandingkan akhir pekan lalu. Harga Ayam masih naik terus. Di Pasar tradisional Wonokoyo, antara Rp. 42.000 hingga Rp. 43.000 per/Kg,” ujar Taufik (35) pedagang ayam Pasar Tradisional Wonokoyo.

Akibat kenaikan harga Ayam ini, dia pun memilih untuk menutup sementara usahanya. Kemarin terakhir kita jual, masih di harga Rp. 40.000 per kg. Itu hari Senin kemarin, karena mahal jadi kita tutup sementara,” ujarnya. Dia mengaku hal ini belum pernah terjadi selama menekuni usaha dagang Ayam potong selama 10 Tahun. Biasanya harga paling tinggi masih Rp. 35 Ribu, ini bukan di hari besar keagamaan, hari ini mencapai Rp. 43 Ribuan, keluhnya.

Muqodas, pedagang Ayam potong di Pasar Tradisional Gedongan Sidoarjo, juga mengamini kenaikan harga daging Ayam ini. Kita jual di harga Rp. 42.000 sampai Rp. 43.000 per/Kg, ujarnya. Disebutkannya, kenaikan harga daging Ayam ini mengakibatkan konsumsi konsumen juga berkurang. Bahkan langganannya, seperti  pelaku usaha rumah makan juga mengeluh akibat kenaikan harga ayam ini. Bahkan untuk pedagang, besarannya juga dikurangi. Biasanya satu kilo daging ayam itu 10 potong, dijadikan 11 potong, ujarnya.

Kenaikan harga daging Ayam ini semakin meresahkan pelaku usaha. Seperti diungkapkan Yulia pemilik usaha Bubur Ayam, di kawasan Sidoarjo. Sampai sekarang kita masih bertahan dengan harga lama. Tapi kita  akan lihat beberapa hari kedepan, ujarnya.
Hal senada diungkapkan Ida, pengusaha Ayam Penyet di kawasan Jalan Rungkut. Dia juga mengeluhkan kenaikan harga Ayam potong yang mencapai Rp. 43.000 per/Kg.  Tadi pagi kita beli Ayam sudah sampai Rp. 43.000 sekilo. Biasanya masih 36.000, tapi ini luar biasa mahalnya, ujarnya. Kenaikan harga ini tidak hanya menggerus untung yang diraupnya. Namun juga memaksanya untuk melakukan penyesuaian harga. Mau tidak mau, harus ada kenaikan harga, keluhnya.

Peternak Ayam di Mojokerto, Agung mengaku, produksi Ayam sudah mulai menurun sebelum puasa Ramadan lalu. Dia mengatakan, penurunan produksi Ayam disebabkan tingginya harga pakan ternak dan juga bibit ayam. Bibit ayam saat ini dijual dengan harga Rp. 6.600 per/ekor, sebelumnya harga hanya Rp. 5.000 per/ekor. Belum lagi harga pakan yang sudah lebih dari tiga bulan naik, yakni Rp. 370.000 per/sak untuk ukuran 50 Kilogram, terangnya.

Sementara harga telur Ayam ras di sejumlah Pasar Tradisional di Kota Surabaya-Sidoarjo masih bertahan mahal. Untuk diketahui, telur ini dipasarkan di harga Rp. 1.350 hingga Rp. 1.500 per butir. Atau mengalami penurunan sebesar Rp. 50 di tingkat distributor.  “Harga masih mahal, tapi ada sedikit penurunan, Rp. 50 per/butir. Penurunan ini sudah dua hari terakhir,” ujar Pedagang Telur di Pasar Tradisional.

Hal tidak berbeda diungkapkan Rony, pedagang telur di Pusat Pasar Tradisional. Dia juga mengamini, harga Telur masih bertahan mahal dan sampai saat ini pihaknya belum merasakan adanya langkah pemerintah untuk melakukan operasi pasar,  sebab sejauh ini baru dilakukan di Surabaya.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim diketahui akan menggelar rapat bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jatim membahas ayam dan telur yang terus melambung dalam pekan ini.

Kabid Perdagangan, rapat akan membahas persoalan yang terjadi pada ayam potong dan telur yang terus melambung tinggi di pasaran. Pertemuan itu juga akan membahas solusi apa yang akan diambil.

Pengamat ekonomi samsul Bahir menilai pemerintah daerah (Pemda) lambat menangani masalah telur dan ayam yang harganya terus melambung di pasar. “Hasil studi peternak ayam melakukan pemasaran sendiri, ketika pasar meningkat distribusi barang ke pasar diperbesar. Ketika pasar kecil, distribusi dibatasi. Itu semua dilakukan sendiri,” kata Bahir.

Peternak, jelasnya, selama ini hanya bertransaksi langsung ke agen atau penyalur. Penyalur atau agen yang memasarkan ke pasar masing-masing ke pedagang.”Jadi, rantai terputus. Seperti antara buyer dan seller saja. Peran pemerintah, sama sekali tidak ada. Ketika distribusi ini terganggu, maka harga di pasar melonjak. Ini yang kita sebut tidak dikontrol sama sekali. Hingga ayam mati atau sakit, juga peternak sendiri yang tangani. Ketika ada kasus di pasar, seperti harga naik maka pemerintah baru sibuk,” ungkapnya.

Pemerintah, jelasnya, hanya memberikan penyuluhan saja. Penyuluhan juga dilakukan secara berkala dan bukan mengontrol produksi peternak.”Kondisi ini berbanding jika pada masa Orde Baru. Saat itu, peternak hingga petani terus diberikan penyuluhan dan pendampingan sampai mandiri. Artinya, produksi bisa dikontrol dengan baik. Ini yang harus jadi catatan Pemda kedepannya,” tegasnya. *(Poer WH Red / Taufik WH Sda)*.