Operasi Senyap Yang Humanis? Oleh: Umar Usman

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

WH Jakarta : Salah satu pahaman pemikiran selama berhikmat mendulang pengalaman dan pengetahuan bersama guru besar kehidupan Abang BULGANON AMIR. Senantiasa mencontohkan prilaku hidup, kepada kami sebagai binaannya?

Kehadiran sosokmu di dunia, adalah karunia dan anugrah Tuhan untuk kamu berprilaku “humanis”. Sesuatu apakah itu?

Sederhananya yang dapat kita pahami dan mengerti, bila ditilik dari semiotika.
Humanis;
1. Orang yang mendambakan dan memperjuangkan terwujudnya pergaulan hidup yang lebih baik, berdasarkan asas perikemanusiaan; pengabdi kepentingan sesama umat manusia;
2. Penganut paham yang menganggap manusia sebagai objek terpenting;
3. Penganut humanisme;

Lebih tandas dan konkritnya bahwa kita, adalah humanisme?
1. Aliran yang bertujuan menghidupkan rasa perikemanusiaan dan mencita-citakan pergaulan hidup yang lebih baik;
2. Paham yang menganggap manusia sebagai objek studi terpenting;
3. Aliran zaman Renaissance yang menjadikan sastra klasik (dalam bahasa Latin dan Yunani) sebagai dasar seluruh peradaban manusia;
4. Kemanusiaan;
(kbbi).

Pelajaran besar dan berdaun-daun hikmah. Salah satu sosok saudara kita MUHAMMAD SAMUD, memimpin “Operasi Senyap Yang Humanis!”.

Pencarian sosok yang bernama AKI FATIH alias MS. AKI FATIH alias ALHADAD FARFUM alias Ir. HADAD MUHAMMAD alias JUANDA BURNATA WIJAYA di medsos facebook dengan konten tulisan ujaran kebencian, rangkaian kata-kata bohong, penghinaan, dan fitnah.

Konten tulisan itu dialamatkan kepada pribadi sosok mursyid kita ABANG BULGANON AMIR dan anggota Yaskum Indonesia!

Ironisnya dalam dialog dengan HADAD, mengakui bahwa belum pernah mengenal secara pribadi terhadap ABANG BULGANON, bukan anggota Yaskum Indonesia, dan bukan sebagai binaan dari Ormas Masyarakat Spiritual Indonesia (RASI).

Mengapa saudara AKI FATIH menulis konten yang kental dan beraroma kebencian, tuduhan, rangkaian kata-kata bohong, penghinaan, dan fitnah itu?

AKI FATIH menerangkan bahwa semua ini terjadi karena mendapat bisikan atau wangsit dari “RASA TUHAN” yang dialaminya.

Murid binaan yang pernah berguru kepada bapak ANDREAS ini mengakui pula bahwa dirinya belum pernah mengenal, bertemu, dan berguru kepada almarhum AKI MUHAMMAD SYAMSOE USMAN juga tidak pernah mengenal dan sebagai binaan dari mursyid kita ABANG BULGANON dan tidak pernah terdaftar dan tercatat sebagai anggota atau umat RASI.

Nalar yang jernih dan logika sehat penuh seribu pertanyaan? Kalam-kalam ucap yang menjadi poros dasar prinsif-prinsif pahaman dan ajaran prilaku hidup dari sosok guru besar dan mursyid AKI MUHAMMAD SYAMSOE USMAN almarhum, adalah mengasihi dan menyayangi jagat raya dan sesama manusia. Tidak boleh membenci, iri, dengki, dendam, dan apalagi melakukan amarah!

Saudara kita MUHAMMAD SAMUD yang juga sebagai Pengayom Wilayah RASI, menerangkan bahwa drama pencarian saudara AKI FATIH berawal dari informasi didapatnya alamat kantor tempat bekerja ibu AISYAH, yang juga Istri AKI FATIH yang ke 9. Setelah mendapat photo kopi KTP atas nama HADAD MUHAMMAD, Ir. dan nomor handphone AKI FATIH dan ibu AISYAH pencarian menemukan titik terang.

Berbekal informasi dari staf kantor Ibu AISYAH bekerja, keberadaan AKI FATIH ditemukan. Dialog negosiasi terjadi. Dengan kesabaran dan sikap bijaksana saudara MUHAMMAD SAMUD dan tim operasi senyap, akhirnya AKI FATIH diserahkan kepada aparat Kepolisian Polsek Kembangan untuk proses hukum, atas laporan pengaduan yang dilakukan oleh ormas Yaskum Indonesia.

Sesuatu yang dapat kita jadikan pembelajaran paling berharga dari arahan dan petunjuk mursyid kita ABANG BULGANON, atas peristiwa ini:

Pertama, kita mesti tegas dan lugas dalam menegakkan keadilan dan realitas kebenaran. Namun tetap HUMANIS dan profesional dalam bersikap dan bertindak.

Kedua, sebagai warga negara kita umat RASI dan Yaskum Indonesia, tidak boleh main hakim sendiri. Mesti patuh dan ta’at terhadap aturan hukum yang berlaku.

Ketiga, tetap konsisten mengontrol dan mengendalikan emosi dan amarah. Tidak boleh anarkis!

Keempat, kepala boleh panas. Namun hati dan jiwa tetap dingin, menyikapi situasi dan kondisi eksternal yang menyulut api amarah!

Salam Persaudaraan!

Kembangan, 14 Juli 2018