Irwandi Pergi, Refinery CPO Jadilah Mimpi

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

_Oleh Muhammad Mairiska Putra_
(Mahasiswa STTN-BATAN Yogyakarta dengan Tugas Akhir berjudul Palm Oil Refinery).

WH Aceh : Setahun yang lalu pasca pelantikan beberapa Bupati di pesisir Barat Selatan Aceh (Barsela), Gubernur Irwandi Yusuf memberi harapan segar dengan menjanjikan pembangunan industri turunan lanjutan dari Kelapa Sawit yaitu berupa Refinery. Refinery adalah kata yang berasal dari bahasa inggris yang berarti penyulingan atau pengolahan minyak mentah menjadi minyak murni.

Dalam penerapannya Tandan Buah Segar (TBS) Sawit yang di panen, diolah terlebih dahulu di Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Hasil dari pengolahan TBS Sawit di PKS ialah CPO (Cruide Palm Oil). CPO sifatnya ialah minyak mentah yang membutuhkan proses pemurnian yaitu di pabrik Palm Oil Refinery (POR). Hasil turunan CPO tersebut ialah berupa olein (cair) dan stearin (padat). Hasil berupa olein ialah berupa minyak goreng, sedangkan stearin dapat diolah menjadi berbagai macam produk seperti sabun, margarin, dan sebagainya.

Hasil dari olein ialah berupa minyak goreng, biodiesel, dan sebagainya. Sedangkan stearin dapat diolah menjadi berbagai macam produk seperti sabun, margarin, dan sebagainya. Irwandi Yusuf pada waktunya itu sangat membuai masyarakat Barsela dengan janji-janji industri yang telah lama di idamkan oleh masyarakat.

Namun kini Irwandi Yusuf ditahan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) oleh kasus OTT (Operasi Tangkap Tangan) terduga menerima suap proyek. Dengan tertangkapnya Irwandi Yusuf berbagai harapan rakyat yang telah di janjikannya perlahan melayang-layang bagai debu. Menerbangkan bayang-bayang menjadi semu. Akhirnya pandangan cita-cita menjadi fatamorgana. Mimpi-mimpi menjadi utopia oleh tindakan OTT KPK yang terus membuktikan Irwandi Yusuf bersalah. KPK meruntuhkan Mazhab Hana Fee dengan menangkap imam besarnya.

Dari lembaran data demi data yang penulis kumpulkan, seharusnya Palm Oil Refinery benar-benar menjadi nyata siapapun pemerintahnya, mengingat begitu besarnya TBS Sawit yang Indonesia hasilkan pertahun yaitu 35 juta ton/tahun (Kemenperin, 2016). Sedang hasil sebesar itu 25 juta ton di ekspor keluar negeri, hanya 10 juta ton yabg mampu di olah menjadi produk jadi di bumi pertiwi.

Entah alasan operasional atau alasan investasi, sebagai raja CPO dunia Indonesia tak henti mengkonsumsi minyak goreng luar negeri. Padahal kalkulasi tidak hanya pada harga jual atau harga beli produk jadi CPO, akan tetapi kalkulasi juga merujuk pada terbulanya lapangan pekerjaan bagi pribumi dari buruh kasar hingga tenaga ahli. Belum lagi jika kita kalkulasi kewibawaan Negeri.

Seperti itulah cerita Refinery yang menjadi mimpi pasca OTT KPK menunjuk Irwandi Yusuf untuk diperiksa lebih lanjut di Jakarta. Oh negeri Garuda, sajakmu abstak, arahmu tak bertuju, ekonomimu mengikuti arus terbang Garuda yang tak tahu kemana. Sebagai rakyat biasa, harap berharap terus diharapkan demi Garuda terbang ke Surga. Aamiin.