DIDUGA KOPERASI BAYU ARTHA RENTENER DAN PEMENANG LELANG RUMAH YUYUN NURHAYATI PENUH REKAYASA EDY MUCHSIN KORBAN KREDIT

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

WH Probolinggo : Yang namanya bisnis untuk mendapatkan untung besar memang bermacam-mamacam menghalalkan segala cara tidak perduli orang lain menderita atau dirugikan dan modus tersebut banyak jenisnya sangat disayangkan hal semacam ini tidak pernah tersentuh hukum. Diantaranya lintah darat atau Rentener dan permainan lelang yang dilakukan oleh koperasi –koperasi diantaranya Koperasi Bayu Artha . yang terletak di Jl. Ahmad Yani 64 Kota Probolinggo yang diduga Rentener dan juga merekayasa lelang dari hasil yang dihimpun koresponden Warta Hukum Proboliggo, atas dasar laporan masyarakat yang merasa dirugikan oleh Koperasi Bayu Artha, rumahnya dilelang oleh dan Pemenang lelang yang bernama Yuyun Nugrhayati kalau kita melihat musabab, penyebab, akibat cerita kronologisnya begini :

Edy Muchsin yang beralamat Jl. Cokroaminoto Gg. Listrikan 239 RT 008 RW 004 Kelurahan Kanigaran Kecamatan Kanigaran Kota Probolinggo. Tahun 2013 Edy Muchsin mengajukan kredit ke Koperasi Bayu Artha sebagai jaminan sertifikat rumah atas nama orang tuanya yang bernama NEMOH tahun 2017, NEMOH meninggal duni. Peralihan atau Tek Over dari Bank Jatim. Sedangkan Edy Muchsin bukan anggota atau nasabah Koperasi Bayu Artha.

Atas perjanjian Notaris Edy Muchsin terima kartu angsuran dari Koperasi Bayu Artha atas pencairan kredit tersebut yang diterima Edy Muchsin di dalam kartu angsuran tertulis total pinjaman Rp. 65.000.000,- (enam puluh lima juta rupiah) angsuran per bulan Rp. 2.943.100, (dua juta sembilan ratus empat puluh tiga ribu seratus rupiah) dan mulai ngangsur 22 Maret 2013 selesai ngangsur 22 Maret 2016 namun fakta sebenarnya Edy Muchsin atas kredit tersebut tidak menerima Rp. 65.000.000,- (enam puluh lima juta rupiah) namun dipotongadministrasi hanya terima Rp. 59.000.000,- (lima puluh sembilan juta rupiah) dan dipotong lagi oleh pegawai koperasi pegawai Bayu Artha untuk komisi Rp. 3.500.000,- (tiga juta lima ratus ribu rupiah). Sehingga total Edy Muchsin terimanya Rp. 55.500.000,- (lima puluh lima juta lima ratus ribu rupiah) sedangkan angsuran yang sudah terbayar 6 kali angsuran karena usahanya macet pada waktu itu kredit tersebut juga macet, namun Edy Muchsin tidak tinggal diam tetap berusaha  ingin menyelesaikan kredit macet tersebut Edy Muchsin beserta saudaranya datang ke Koperasi Bayu Artha ingin menyelesaikan atau menebus sertifikat tanah dan menemui Manager Erik Dwitanto yang juga pemilik Koperasi Bayu Artha. Namun Erik Dwitanto minta tebusan sebesar Rp. 112.000.000,- (seratus duabelas juta rupiah) sedangkan Edy Muchsin saat itu hanya mampu menebus Rp. 70.000.000,- (tujuh puluh juta rupiah)  dengan cara mencicil perbulan Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) dengan sesuai kemampuan Edy Muchsin dengan tidak disangka-sangka tau-taunya belum masa selesai pelunasan angsuran tahun 2016. Tahun 2014 rumah sertifikat atas nama NEMOH orangtua Edy Muchsin dilelang oleh Koperasi Bayu Artha tanpa proses yang benar sedangkan pemenang lelangnya yang bernama Yuyun Nurhayati beralamat Jl. Candi 4B tidar view 21 Karang Besuki, Malang.

Tanggal 21 Mei 2018 Nemoh almarhum dan kawan-kawan dapat relaas panggilan ANMANING dalam permohonan ekskusi No. 1/Pdt/EKS/2018/PN/PBL atas relas panggilan ANMANING dari Pengadilan Negeri Kota Probolinggo, Edy Muchsin didampingi kuasa hukum Dullah SH. Berkomitmen ingin menyelesaikan haknya dengan pemohon ekskusi Yuyun Nurhayati namun Yuytun Nurhayati berargumen kalau rumah hasil lelang akan ditempati sendiri. Hal ini menurut pakar hukum Hadi SH. Diduga pemenang lelang pemain lelang bermain dengan koperasi, seharusnya Dinas Diskoprindag melakukan pengawasan kepada Koperasi-koperasi yang mengalahi Undang-undang Koperasi. Jelasnya hal yang berbeda kalau ini betul terjadi menurut salah satu ulama di Probolinggo koperasi Bayu Artha bisa dikatakan kategori Koperasi Rentenir. Dan harus ditutup oleh Pemerintah. Jelasnya sedangkan Warta Hukum melakukan investigasi di Malang datang ke alamat pemenang lelang Yongki menjelaskan  ternyata pemenang lelang yang bernama Yuyun Nurhayati pegawai koperasi bagian Audit Koperasi, sedangkan alamat rumah tersebut rumah yang bernama Badrus Yaman hal ini sudah jelas-jelas lelang yang dilakukan Koperasi Bayu Artha dan selaku pemenang lelang Yuyun Nurhayati betul-betul rekayasa adanya. Juga selaku kuasa hukum Edy Muchsin Dullah SH. Menyatakan Yuyun Nurhayati bisa dikategorikan tindak pidana karena pemalsuan data yaitu alamat palsu. Seharusnya pengadilan negeri Kota Probolinggo melalui Majelis Hakim menolak permohonan ekskusi yang dilakukan oleh Yuyun Nurhayati selaku pemenang lelang karena ini betul-betul merugikan masyarakat . (Rohim)