MENJELANG HARI RAYA IDUL FITRI UMKM MEMPROMOSIKAN TENTANG KULINER DI BANYUWANGI

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

WH Banyuwangi : Senin, 28/5/2018. Kadis UMKM Alief Rachman Kartiono mengatakan untuk yang pertama kita mempromosikan perkembangan daerah, kemudian yang kedua kita juga bisa membangun gedung Hotel, akan tetapi Hotel bintang 3 ke bawah dilarang oleh Bupati, semestinya harus Bintang 3 ke atas.

Karena ada beberapa pertimbangan untuk kecenderungan misalnya bisa di pakai praktek–praktek gak jelas, di pakai minuman keras, untuk karaoke dan lain sebagainya. Ini sangat berdampak sensitif dan negatif untuk menarik perhatian di kalangan umum atau para tamu pengunjung supaya tertarik dengan nuansa suotime.

Pada dasarnya secara tidak langsung Pemerintah tidak melarang bila ada Hotel–Hotel Bintang 3 ke bawah, sebab dari Pemerintahpun ingin mengajak para pengunjung itu akan di kenalkan suatu bentuk Homesty.
Di Banyuwangi ini kan banyak Homesty–Homesty yang telah maju dari usaha kecil–kecilan seperti Sovenir, olahan makanan dari Bolu Kuwuk, Kerajinan bahkan ada yang lain tentunya, paparnya.

Sebenarnya kalau menurut UMKM cukup banyak hal yang harus kita lakukan, tetapi ini semua harus melalui proses kembali, termasuk kemarin kami mendapat bantuan binaan dari Program Koperasi dalam kurun waktu 1 Minggu lalu.

Bagaimana cara untuk memberikan binaan dan bagaimana membangun Jejaring pemasaran untuk meningkatkan kuwalitas produk, terus bagaimana kita bisa memahi tentang IT yang saat ini di era jamanya pakai online, dengan nada lirihnya.

Untuk itu kapan hari UMKM sempat di protes tidak lagi menjadi produsen dan sekarang lebih ke Reseler dan akhirnya lari ke pedagang. Namun dari kosentralinya pedagangpun repot untuk saat ini masih pada seler produsennya.

Seperti dia bisa mengambil barang dari mana terus kemudian mereka jual lagi, hingga produsen kali ini mengalami sampai berdarah–darah, berkeringat dan sebagainya. Tetapi edit folumnya kecil mereka dapatkan dan rata–rata mereka sangat tergatung dari maklar yaitu pedagang antara, sehingga vaksin itu sudah menjadi PR kita, oleh karenanya bergerak untuk membuat Banyuwangi MOOL antara lain : Toko Pedia, Bukalapak, Sovie yang main itu adalah Reseler rata – rata yang nota bene untuk kemampuan IT yang hebat dan sebagainya.

Maka untuk transaksinya memang tergolong cepat, tetapi problemnya adalah kalau misalnya kita tinggal, toh kita bisa mengambil kebijakan mungkin dari sekjen Bupati nanti pasti Reselernya mengalah dari modalnya cukup minim dan untuk kemampuan IT terbatas, dan tenaga yang di gunakan akan terbatas juga, dia mungkin tidak punya koran expedisi seperti yang lain. (Gufron)