Perekonomian Terus Meningkat, Penduduk Miskin Terus Berkurang

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

WH Lubuklinggau : Lubuklinggau saat ini sudah didaulat menjadi kota tujuan wisata, terbukti hadir menyajikan keindahan wisata alam dan tujuan belanja. Bahkan, sekarang didukung dengan adanya program ‘Ayo Ngelong ke Lubuklinggau’. Sejak gencarnya program ini, Lubuklinggau dikunjungi jutaan warga dari luar daerah. Bahkan, ini terlihat jelas semasa liburan tahun baru dan libur lebaran. Seperti di Waterpark, Air Terjun Temam yang dijuluki ‘Niagara Mini’, Bukit Sulap dengan inclinator.

Kota Lubuklinggaupun saat ini memiliki lima objek wisata Unggulan yaitu, Air Terjun Temam, Bukit Sulap, Wisata Religi Masjid Agung As-Salam, Watervang dan Arung Jeram. Terlebih, berdasarkan hasil survei terakhir obyek wisata Kota Lubuklinggau masuk tiga besar dari semua kabupaten yang ada di Sumsel, dengan demikian perlu ada penambahan pembangunan fasilitas untuk pengunjung agar lebih aman dan nyaman.

“Untuk membangun wisata harus ada desain modern dan tidak bisa hanya mengandalkan kecantikan pesona alam saja, tapi keragaman bentuk agar pengunjung lebih menarik. Contohnya negara Singapura, tidak memiliki obyek wisata alam, tapi bisa menarik orang luar untuk berkunjung dan itulah yang akan ditargetkan kedepan,” jelas Pj Walikota Lubuklinggau, H Riki Junaidi.

Bahkan, Pemerintah Kota Lubuklinggau jeli dalam melihat potensi Bukit Sulap. Eksotik dan medannya yang ekstrem digarap menjadi jalur sepeda gunung. Trek turun bukit (Downhill) Bukit Sulap cukup menantang. Sejak 2010, kejuaraan sepeda gunung rutin digelar di tempat itu. Puncaknya pada Oktober 2014, Bukit Sulap terpilih sebagai lokasi Kejuaraan Sepeda Gunung tingkat Asia (Asian Mountain Bike) yang diikuti atlet sepeda dari 20 negara. Terbukti, pengunjung bukan hanya warga Kota Lubuklinggau saja, namun, juga warga daerah lain seperti Bengkulu, Empat Lawang dan Jambi yang sengaja datang untuk menikmati indahnya Air Terjun Temam. Menurutnya, hal ini tidak lepas dari upaya masyarakat terus mewujudkan kota wisata tersebut. Apalagi geliat perekonomian Lubuklinggau sudah terlihat jelas, dengan menjadi tujuan belanja dari keberadaan pusat perbelanjaan yang ada. Selain pusat perekonomian, Kota Lubuklinggau pun siap menjadi kota tujuan pendidikan. Mulai dari perguruan tinggi hingga sekolah unggulan, yang memancing minat siswa luar daerah untuk bersekolah di Lubuklinggau.

Sementara, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan merilis angka kemiskinan di Provinsi Sumatera Selatan mengalami penurunan dari Jumlah Penduduk miskin pada bulan maret tahun 2016 sebanyak 1.101,19 menjadi 1.086,92 di bulan Maret tahun 2017 atau menurun sebanyak 14,28. Dari 17 Kabupaten dan Kota di Provinsi Sumatera Selatan Kota Lubuklinggau yang menjadi Indikator penyumbang terbanyak penurunan angka kemiskinan di kota Lubuklinggau selain Kota Palembang dan Musi Banyuasin.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan Yos Rusdiansyah melalui Kepala BPS Lubuklinggau Aldianda Maisal mengatakan, angka kemiskinan kabupaten/kota di Sumatera Selatan Tahun 2017 tersebut telah melalui proses evaluasi dan diskusi antara Direktorat Statistik Ketahanan Sosial BPS dengan BPS Provinsi Sumatera Selatan selama periode September-Desember 2017.

“Angka ini merupakan angka resmi BPS tentang angka kemiskinan Kabupaten/Kota Tahun 2017. Jika ditemukan data kemiskinan Kabupaten/Kota tahun 2017 yang berbeda dengan angka tersebut maka dapat dipastikan angka tersebut bukan berasal dari BPS dan bukan merupakan angka resmi BPS,” katanya.

Sementara itu pengamat Ekonomi muda Riki Hairul Amri mengatakan, kemiskinan merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, antara lain: tingkat pendapatan, kesehatan, pendidikan, akses terhadap barang dan jasa, lokasi, geografis, gender, dan kondisi lingkungan.

“Kalau lihat dari rilis tersebut jelas Kota Lubuklinggau menjadi salah satu kota penyumbang penurunan angka kemiskinan terbesar, dari persentase jumlah penduduk 31.05 di bulan maret 2016 menjadi 29.54 di bulan maret 2017 atau menurun sebanyak 1.51 selain Kota Palembang menurun sebanyak 7.54 dan Musi Banyuasin menurun sebanyak 1.70,” kata Riki yang saat ini sedang mengemban Study kandidat Doctor Ilmu Ekonomi di salah satu perguruan negeri ternama di negeri ini.

Ditambahkan Riki terkait Kota Lubuklinggau sangatlah wajar Kota Lubuklinggau mengalami penurunan angka kemiskinan yang meningkat antara tahun 2016 ke tahun 2017, karena di tahun tersebut Pemerintah Kota Lubuklinggau sangatlah gencar menciptakan lapangan pekerjaan.

“Berdirinya Pusat pembelanjaan Lippo Plaza, JM Square, Alfa Mart, Indomaret, Rumah Sakit Siloam, Rumah Sakit Ar. Bunda, Hotel-hotel besar salah satunya Daffam Hotel, pusat perbelanjaan tradisional Pasar Bukit Sulap, Pasar Simpang Periuk, banyaknya tempat wisata yang berdampak dengan meningkatnya pendapatan masyarakat di sekitar wisata, menyulap kampung biasa menjadi Indah dan terkenal yang juga berdampak dengan masyarakat di wilayah tersebut dan banyak lain-lainnya,” katanya.

Lebih lanjut Riki menambahkan dalam hal ini pemerintah kota Lubuklinggau menekankan 75% tenaga kerjanya harus tenaga kerja lokal, dengan berdirinya Lippo Plaza, JM Square, Rumah Sakit Siloam, Rumah Sakit Ar. Bunda, Alfa Mart, Indomaret, berdirinya Hotel-hotel, Pusat perbelanjaan tradisional Pasar bukit sulap dan Simpang Periuk .

“Melihat hal itu jelas membuat penurunan angka kemiskinan karena Ribuan masyarakat kota Lubuklinggau terbantukan karena mendapatkan pekerjaan dengan meningkatnya sektor pendapatan, dan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan diatas membuktikan keberhasilan pemimpin di Kota Lubuklinggau diwaktu itu,” ungkapnya.(adv/minor)