PEMBELAJARAN DAN KODE ETIK (RASI)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

WH Jakarta : 4 Februari 2018. RASI merupakan nama perkumpulan Masyarakat Spritual Indonesia yang bertujuan untuk mengenalkan Kuasa Tuhan/Kuasa Allah(Ruh) yang ada pada setiap insan. Dengan mengenal dan merasakan adanya Ruh Allah yang ada pada diri sehingga tersinari jiwa dan hati dan kemudian tertuntun segala tindak laku di atas pengaturan Kuasa Tuhan/Kuasa Allah.

RASI suatu wadah pembinaan spritual yang menerima anggota dari semua lapisan masyarakat dengan tanpa membedakan status sosial, ras, suku bangsa, agama atau apapun yang melekat pada diri seseorang. RASI tidak mencampuri, merubah, menambah dan mengurangi aturan aturan dan syariat yang berlaku pada masing masing agama. Bahwa syariat agama dilakukan oleh masing masing agama tanpa ada intervensi. Adapun buku Pedoman Dasar Pembinaan Masyarakat Spritual Indinesia tidak memasukkan syariat aturan-aturan dan tuntunan agama manapun, namun buku panduan yang ada hanya kode etik tentang pembinaan anggota RASI menurut DR.

Muntaha Nour, MA dan para Pengayom I dan II yang ikut berpartidipasi dalam penyempurnaan gagasan buku Panduan Pembinaan Mental Spiritual dalam mengenal diri Perkumpulan Masyarakat Spiritual Indonesia ( RASI ). Dalam buku Panduan Dasar Pembinaan RASI juga tertuang tugas seorang Pembina dalam mengembangkan pempinaan RASI, ada beberapa syarat penting yang harus diperhatikan oleh Pembina dalam memulai pembinaannya. Tugas Pembina pertama adalah menerangkan dan menjelaskan tentang Kuasa Tuhan atau Kuasa Allah ( Ruh ) yang ada di dalam dirinya manusia itu sendiri. Tugas Pembina kedua adalah menuntun ummat yang telah mendapatkan keterangan, penjelasan dan bersedia untuk dituntun diatas rasa keyakinannya, agar merasakan adanya Kuasa Tuhan atau Kuasa Allah ( Ruh ) yang ada di dalam dirinya. Tugas Pembina ketiga adalah menjelaskan bahwa tahapan diatas sebagai rangkaian awal untuk menilbulkan sebuah harapan yang akan dicapai ummat tersebut, agar lebih menyakini adanya kekuasaan Tuhan atau kekuasaan Allah ( Ruh ) dan pengaturan Allah didalam dirinya, sehingga rasa itu akan mampu menolong dalam segala urusan hidupnya lahir maupun bathin. Tugas Pembina keempat adalah menjelaskan kepada ummat binaannya agar mematuhi aturan aturan yang tertera pada buku Panduan Dasar Pembinaan RASI yang dimaksud dalam mengenal diri.

Dalam RASI sendiri ada tingkatan tingkatan Pembina, adapun tingkatan pembinaan tersebut di atas adalah sebagai berikut:

1. Pengertian Ikhwal/ Pemula/ Pengamal ; adalah mereka pada umumnya pribadi yang telah merasakan rasa Kuasa Tuhan atau Kuasa Allah ( Ruh ) yang ada di dalam dirinya. Tingkat ini adalah tingkatan pemula yang baru merasakan Kuasa Tuhan atau Kuasa Allah ( Ruh ) yang ada di dirinya, maka yang harus dilakukan olehnya setiap saat dengan menyebut nama Tuhan nya dimana saja berada serta melatih dengan melafadzkan Allah atau Tuhan yang demikian itu akan menjadikan hati tenang, damai dan atau psikologinya menjadi positif.

2. Kiprah Ikhwan/ Pemula/ Pengamal : Tingkatan ini memang mendapatkan arahan arahan, bimbingan dan petunjuk dari pembinaannya, berupa pembelajaran-pembelajaran yang harus diikuti dengan taat, patuh dan teliti. Tingkatan ini sebagai tingkatan Ikhwal/ Pemula/ Pengamal yang usianya minimal 17 tahun. Beranjak ke Imam/ Penghayat, pengertian Imam/ Penghayat : Pribadi yang telah sukarela mendapat pembinaan, karena adanya sesuatu yang dirasakan dan mendapatkan banyak manfaat bagi dirinya, pada umumnya tingkatan ini adalah mereka yang telah melewati tingkatan pemula dan merasakan ketenangan pikiran, kedamaian hidup serta penuh semangat hidup, sehingga pribadinya wajib menyampaikan kepada sesama yang masih kegelapan hatinya, diatas Kuasa Tuhannya.

3. Syarat untuk menjadi Imam/ Penghayat yaitu: Seorang Ikhwan, telah beraktivitas di dalam pembinaan perkumpulan RASI sekaligus sebagai pelatihan di tempat pembinaannya sudah teruji dan terukur sesuai ukuran pembinaannya. Seorang Ikhwan, telah merasakan perubahan dirinya diatas rasa Kuasa Tuhan setelah mendapatkan bimbingan dan arahan dari pembinanya. Seorang Ikhwan, yang sudah merasakan kedekatan Kuasa Tuhannya, maka dirnya layak untuk diangkat sebagai Imam/ Penghayat. (Ahmad Safei).