Penyakit Langka Diderita Oleh Seorang Bayi Di Sampang

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

WH Sampang : Di Desa Buker-Kecamatan Jrengik-Sampang ada seorang bayi yang lahir mengalami cacat tubuh, bayi tersebut bernama Warda dengan usia sekitar 60 hari orang tua dari bayi tersebut bernama Moh. Walid (26 tahun) dan merupakan atau termasuk golongan keluarga (miskin) yang kurang mampu, karena keterbatasan ekonomi maka bayi tersebut tidak pernah sekalipun di bawa ke dokter maupun ke rumah sakit karena disebabkan faktor orang tua tidak mempunyai biaya.

Akhirnya pada suatu saat ditemukanlah bayi itu oleh suatu lembaga kemanusian kalau ada salah satu bayi di Desa Buker yang mempunyai kelainan cacat tubuh.  Akhirnya atas inisiatif lembaga tersebut yang bernama Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) bekerja sama dengan Kepala Desa Buker (Abdus Shodiq), para Bidan Desa antara lain Ely Masruro, Sojinatun Najah, St. Solikhah juga dari pihak kepolisian (Hery Purnomo). Mereka mengantarkan dan membawa bayi (Warda) menuju ke RSUD Sampang pada hari Rabu (24/01/2018) dan sampai di RSUD Sampang sekitar jam 08.00 Wib langsung mendapat penanganan medis oleh pihak petugas Rumah Sakit, tepatnya di ruangan IGD.

Saat di konfirmasi dan wawancara ke Ketua DKR (Moh. Iqbal Fathoni) yang lebih akrab di panggil Vavan mengatakan, ” pada waktu lahir berat badan bayi tersebut normal, dikarenakan ada cacat tubuh yaitu mulutnya sumbing, lubang hidungnya tidak ada kedua kakinya terlipat, juga kedua belah matanya seperti rabun dan tidak dapat melihat, karena asupan makanan terutama Air Susu Ibu (ASI) tidak masuk ke tubuhnya, sehingga lama-kelamaan adik Warda tersebut bobot dan berat badannya semakin turun, sedangkan untuk kedua orang tuanya tidak mampu membawa ke dokter karena terkendala faktor biaya, oleh sebab itu kami dari lembaga kemanusiaan Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) beserta kepala desa Buker juga pihak terkait merasa iba dan kasihan dengan kondisi Kesehatannya, sehingga hati kami terketuk untuk membawanya ke RSUD Sampang.

Sesampainya di sini, kami minta kepada pihak rumah sakit untuk segera cepat ditangani karena dulu kami pernah menolong bayi yang berasal dari Kecamatan Camplong, kejadiannya hampir sama seperti ini, karena disebabkan kurang adanya penanganan dan pelayanan dari pihak rumah sakit akhirnya bayi tersebut nyawanya tidak tertolong lagi dan meninggal Mas, dan untuk adik Warda sendiri, kami mohon dan mengharap kepada saudara-saudara di luar sana untuk memberikan sumbangan dana kemanusiaan, terutama kepada Bapak Bupati Sampang juga Kepala Dinas Pemerintah Kabupaten Sampang “, ujar Vavan.

Kami dari pihak awak media juga menemui orang tua dari bayi tersebut yaitu Moh. Walid, beliau mengutarakan, “Saya selaku orang tua melihat keadaan fisik anak kami seperti itu, seakan-akan terasa ingin menangis dan sedih sekali, sebelum adanya lembaga DKR anak saya sama sekali belum dapat perhatian dan bantuan apa-apa dari pihak pemerintah setempat, jangankan untuk makan memasukkan susu saja kepada anak kami harus dibantu dengan bantuan selang dan setiap setengah bulan sekali selangnya harus diganti, untuk penggantiannya itupun harus dibawa ke klinik “NINDHITA” dengan seharga Rp. 100.000,- untuk sekali ganti selang dengan biaya uang saya sendiri hasil dari pemberian para Tetangga sekitarnya yang merasa kasihan dan prihatin terhadap keadaan fisik juga Kesehatan anak saya, tetapi dengan adanya bantuan dari lembaga DKR ini, saya dan seluruh keluarga mengucapkan banyak terima kasih dan syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT, karena anak saya sudah bisa di rujuk dan di bawa ke rumah sakit “, Kata Moh. Walid dengan mata berkaca-kaca.

Selanjutnya pihak awak media menanyakan ke petugas (dokter) di RSUD Sampang terkait tentang penyakit yang diderita oleh seorang bayi (Warda) warga desa Buker, pihak RSUD Sampang menyatakan bahwa bayi tersebut menderita suatu gejala yang mengarah kepada Apa yang dinamakan ” Toxoplasma Rubella Cmv Hsv 2″ (TORCH) yaitu merupakan infeksi ganas dari dalam janin, umumnya disebut dengan infeksi Rubella, satu-satunya penanganannya tidak alternatif lain, kecuali harus di rujuk ke rumah sakit Surabaya karena peralatan dan obat-obatannya di sini masih belum ada, Ungkap salah satu petugas RSUD Sampang tersebut.