Mobil Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Mangkrak Di Bengkel Baruna Motor

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

WH Sampang : Perawatan dan pemeliharaan Aset Negara terutama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengalami permasalahan dan kendala yaitu menyisakan tunggakan hutang ke salah satu bengkel yang dijadikan kerja sama dalam perawatan  atau pemeliharaan mobil Operasional khususnya pengangkut sampah yang ada di kabupaten Sampang. Setelah kami telusuri bersama pihak media lain, di situ ada permasalahan tentang pembayaran untuk perawatan dengan pihak bengkel yang bernama “Baruna Motor” beralamat di jalan. Diponegoro-Sampang.

Pada hari Senin (22/01/2018) sekitar jam 11.00 Wib, kami bersama pihak media lain mendatangi Bengkel Baruna Motor dan langsung di temui oleh pimpinannya sendiri (H. Asnawi) dalam keterangannya H. Asnawi menceritakan tentang kronologis dengan mangkraknya mobil DLH di bengkelnya. H. Asnawi mengatakan, “sebetulnya kami dari pihak bengkel melakukan kerja sama dengan DLH dan ada surat kontrak kerja mulai tahun 2013, tapi akhir tahun 2017 tepatnya bulan Desember dari pihak DLH melakukan pemutusan kontrak kerja sama secara sepihak oleh Plt DLH yang baru (Misdi), dan Bapak Misdi mengatakan kalau mau diteruskan kontrak kerja sama perawatan dan pemeliharaan mobil Operasional asalkan pengerjaannya di bagi dua dengan pihak bengkel lain atau memberikan uang fee kepada pihak Plt DLH (Misdi) sebesar Rp. 200.000.000,- dan secara otomatis pengerjaannya akan dilimpahkan semua pada pihak Baruna Motor”, ujar Beliau.

Selanjutnya H. Asnawi mengutarakan, “Dengan mangkraknya Mobil Operasional DLH itu mangkrak karena tersangkut masalah hutang, sehingga mobilnya saya tahan, adapun penahanan karena tersangkut masalah beban hutang DLH yang masih belum terealisasi sebesar Rp. 32.965.000 (perawatan dan pemeliharaan selama tahun 2017) selain itu hutang masalah hutang tidak terduga dari pihak DLH sebesar Rp. 51.000.000,- jadi total hutang kantor DLH sebesar Rp. 83.965.000,-. Maka dari itu sampai detik ini tidak kejelasan sama sekali dari pihak DLH sehingga saya dari pihak bengkel menahan sementara mobil Operasional tersebut “, Kata H. Asnawi.

Sampai-sampai H. Asnawi menunjukkan semua nota atau kwitansi selama tahun 2017, dan memang benar adanya bahwa di Bengkel Baruna Motor ada 3 mobil yaitu Mobil Truck Tangki, Mobil Truck penyedot tinja, dan Mobil pick up terbuka. Setelah menghubungi lewat telpon untuk konfirmasi terkait penahanan mobil Operasional tersebut kepada Plt. DLH (H. Misdi) ternyata beliau mengatakan “Untuk masalah tanggungan atau Hutang DLH ke Baruna Motor perlu adanya bukti-bukti tertulis, misalkan nota atau kwitansi baru bisa dicairkan, pemerintahkan kayak gitu, dan untuk kerja sama tahun 2018 masalah perawatan dan pemeliharaannya dilimpahkan ke bengkel lain karena pihak Baruna Motor tidak mau lagi untuk kerja sama dengan pihak kami (DLH) “, Kata H. Misdi.